Minggu, 22 Desember 2024

Menerima Takdir

Kekasihku ...
Tak sedikitpun ada yang berubah
Selepas kejadian yang sangat menyulitkan
Bahkan keadaan kala itu 
Seperti menyeretku sampai ke titik nadir

Kali ini aku lebih siap untuk menerima
Jika nanti akan kembali 
Menemui keadaan yang menyulitkan
Terasa tak ada lagi ketakutan
Sebab semua hal yang ditakutkan telah terlewati

Kekasihku...
Aku hanya ingin menjalani sisa hidup 
Bersamamu dengan semampunya
Tanpa harus memilikimu seutuhnya
Menjagamu dengan semampunya
Menerima takdir dengan apa adanya

Ini bukan perkara pesimis
Seolah tidak mau lagi bermimpi
Juga memiliki angan yang tinggi
Melainkan batas lelah manusia
Yang dulu pernah berambisi 
Namun berkali-kali disudutkan
Oleh kenyataan tanpa henti

Kekasihku...
Aku sadar
Tak selamanya harapan dan impian
Selalu bisa kita wujudkan dan miliki
Ada juga yang hanya bisa kita nikmati, walau perih

||23 Desember 2024, KM. NGGAPULU
Toddo Lentu Batujala


Senin, 16 Desember 2024

Surat Cinta Sang Istri kepada Suaminya

Kita telah melalui masa-masa suka dan duka 
Bersama sebagai pasangan suami istri
Saling melengkapi, saling mencukupi
Kita tersenyum bersama
Menjalani perjalanan kehidupan
Pernikahan kita yang penuh dinamika
Indah, lucu, getir, dan juga mengesankan
Kau ajarkan aku menghiasi diri ini
Dengan akhlak dan keikhlasan
Kau bantu aku agar menjaga lisan dan kesabaran

Allah telah mempertemukanku 
Dengan Mujahid terbaik untukku
Jalan panjang dan terjal terbentang dihadapan kita, suamiku sayang
Tapi yakinlah...
Bersama-sama kita akan melewati semuanya 
Dengan penuh keyakinan dan ketegaran
Semoga Allah SWT senantiasa melindungi dan menjaga kita 
Dalam menempuh perjalanan hidup ini

Selamat Hari Ulang Tahun Perkawinan
Suamiku Sayang...
Kita tidak sempurna tapi kita belajar 
Saling mengasihi dengan cinta yang terus diusahakan

Jika Tuhan ijinkan
Sampai kita tua nanti, Sayang ...
Sampai tidak ada lagi gigi yang dapat mengunyah 
Sampai kita saling menatap satu sama lain 
Dengan mata yang mungkin sedikit rabun
Dan berkata bahwa kita memiliki satu sama lain

Jika Tuhan ijinkan…
Sampai waktunya nanti, Sayang ...
Selalu, aku sayang kamu
Kamu lembut dan pengertian
Panjang sabar serta selalu bertindak hati-hati
Sedang Aku? 
Aku cerewet ...
Panjang langkah kaki dan seringkali tergesa-gesa
Tapi kita berpadu, bukan?

Kita bagai Yin dan Yang
Saling bertentangan namun sesungguhnya menetralkan
Coba bayangkan jika aku juga pendiam sepertimu
Mungkin rumah kita akan lebih hening 
Dari perpustakaan, atau parahnya
Lebih sepi dari kuburan
Kita bertentangan tapi tidak berseberangan
Kita selalu berusaha mencari keseimbangan 
Di antara perbedaan yang ada

||9 Nov 2015, Muhrifa Astina

Rabu, 04 Desember 2024

Intelek tak bernyali

Sulit memang di zaman sekarang ini
Zaman di mana kita hidup 
Di tengah masyarakat yang dibangun 
Atas kezaliman, penindasan, kebodohan,
Dan apatisme, serta hedonisme

Zaman ketika semua pandangan yang benar
Mengalami pemasungan
Pemikiran dan kesadaran yang tinggi terbelenggu 
Bahkan yang terjadi pelacuran intelektual
Untuk mendapatkan jabatan dan kedudukan yang tinggi

Situasi dan kondisi yang seperti ini
Seorang pemikir hanya menjadi alat kezaliman dan penindasan
Yang harus dihadapi
Oleh kesadaran intelektual itu sendiri

Oleh karena itu
Tidak akan ada kebebasan dan kemerdekaan 
Jika yang mengaku kaum intelektual 
Tidak berpartisipasi 
Menghadapi dekadensi moral
Bahkan bingung dan takut 
Menghadapi penindasan

(Toddo Lentu Batujala)
Bantaeng, 10 Oktober 2019

Sang - Hang 17

Sang bertanya padaku!
Hang, apa itu cinta sejati?
Lalu aku menceritakan kisahku padanya 
17 tahun yang lalu
Setelahnya ia menertawakanku
Sebelum akhirnya ia menestakan air mata
Lalu, aku menepuk bahu dan mengelus kepalanya
Seraya berkata ...
Cinta itu bukan hanya harus memiliki
Tapi cinta itu juga harus bertanggung jawab

Sang ...
Berjanjilah padaku, kau akan selalu ingat
Kau lebih berani dari yang kau yakini
Lebih kuat dari yang kau kira
Dan lebih pintar dari yang kau pikirkan

Ingat Sang ...
Kisah cinta sejati tidak pernah berakhir
Cinta sejati selalu membangkitkan jiwa 
Tak memiliki batas ruang dan waktu
Bahkan kematian tidak akan membuatnya berakhir 
Ia selalu memiliki jalan untuk kembali 
Ia menyatu dengan semesta
Dan semesta tidak pernah melepaskannya












Minggu, 29 September 2024

Jejak Misteri 30 September

Udara malam membisik 
Perlahan di atas awan kelabu
Di bawah langit yang kelam
Bergerak mengiringi maut

Sang fajar kelam menjadi saksi
Seruan maut dalam lubang buaya
Jalan berdarah dalam gelap malam
Menyimpan jejak penuh misteri

Darah yang tumpah meluap
Mengalir membasahi bumi pertiwi
Air mata menetes terkenang syuhada
Menggores jiwa beribu pilu

Jeritan dan tangis keluarga
Mengiringi dentuman senjata api
Peluru merobek kulit menembus jantung
Enam jenderal dan satu perwira 

||Toddo Lentu Batujala, 30 September 2024
























Sabtu, 07 September 2024

Sajak untuk Munir

Munir Said Thalib
Nyawamu melayang di udara Amsterdam
Kau mati bukan karena arsenik
Yang melantas ke dalam tubuhmu
Tapi karena negara mengkhianatimu

Negara bukan buta mata
Tapi negara menutup mata 
Atas pelanggaran
Hak Asasi Manusia

Demikianlah tabiat bangsa ini
Penguasa dengan kokoh dilindungi dan dibentengi 
Kasus-kasus dengan rapi disembunyikan di bawah meja
Tersangka dengan lihai ditutupi dan bebas melanglang buana

Tujuh September Dua Ribu Empat 
Dua puluh tahun sudah berlalu
Kasusmu masih mengudara di atas janji pemimpin
Tanpa arah, tanpa kepastian, dan tanpa penyelesaian

Bantaeng, 7 September 2024
Toddo Lentu Batujala










Kamis, 22 Agustus 2024

Pesan kepada Wakil Rakyat

Kini aku semakin mengerti
Tak ada lagi yang bisa diharap padamu
Sebagai wakil rakyat 
Engkau suka disogok dan suka korupsi
Supaya hidupmu lebih sentosa

Kini aku semakin mengerti
Sogok dan korupsi
Bagimu itu normal
Tapi bagi kami tidaklah demikian
Engkau layaknya manusia setengah iblis

Kini aku semakin mengerti
Di kalangan pecundang
Kehormatan hanya gincu
Yang terpenting keluletan dan ketegasan
Meskipun dalam berdusta

Kini aku semakin mengerti
Suara atas nama rakyat hanyalah tipuan
Menindas rakyat kecil mengagungkan elit
Agar kedudukanmu tetap menanjak
Inilah ilmu kaum pecundang

Kini aku semakin mengerti
Siang malam engkau bersua para elit
Ngomongmu ngawur pun tak jadi masalah
Asal kau bersemangat dan penuh keyakinan
Dalam mengatur propaganda menutupi aibmu

Kini aku semakin mengerti
Tak akan lagi menilai dari watak
Sebab hanya ada dua nilai, kawan dan lawan
Kawan bisa baik sementara
Sedangkan lawan selamanya buruk nilainya

Akhirnya aku berpesan padamu
Bila nanti rakyat tak lagi peka dan peduli
Bila nanti rakyat tak lagi menghargai dan menghormatimu sebagai wakil rakyat
Itu sudah jamaknya juga sebagai cerminan dirimu

Rakyat kecil tak bisa selalu mengalah
Ia bisa bangkit dan melawan tirani
Ia bisa saja jadi pemberontak

Selasa, 20 Agustus 2024

Pilihan Hidup

Aku pernah mengucilkan jiwaku
Ketika aku merasa lemah padahal masih bisa kuat
Aku juga pernah mencela diriku
Ketika melihat diriku berlari di hadapan orang lumpuh

Aku pernah memilih jalan yang landai 
Ketika berhadapan dengan pendakian
Aku pernah mengatakan bahwa semua orang pernah melakukan kesalahan
Ketikan aku membuat sebuah kesalahan

Aku pernah memilih menghindar 
Ketika berhadapan dengan rasa takut
Aku pernah mengejek yang kuanggap buruk
Ketika melakukan sebuah kebaikan

Tanpa seizinmu tak ada yang bisa membuatmu rendah
Lihatlah cermin, maka kau akan menemukan
Seseorang yang akan mengubah hidupmu
Rahasia menuju kebahagiaanmu
Adalah jatuh cinta pada dirimu sendiri

Jadilah dirimu sendiri, sebab
Dokumen asli lebih baik dari salinan
Tidak semua orang mengerti dirimu
Tapi yang mengerti dirimu tidak akan melupakanmu

Minggu, 18 Agustus 2024

Kemarilah Sayangku

Tangismu bagaikan guntur
Menyambar di langit tinggi
Sedihmu bagaikan bintang 
Yang redup di malam hari

Kemarilah kasihku, beranjaklah 
Aku telah mengenali surutmu
Biarkan aku mengisi kekuranganmu
Hingga kau kembali pada pasangmu

Kemarilah sayangku, dekatlah padaku
Aku tak akan membiarkanmu sendiri
Menyalakan api dan lentera
Di tengah hujan dan badai 

Kemarilah cintaku, duduklah di sampingku
Mari kita saling menatap bintang, bicaralah tentangmu
Tentang semua yang tak pernah usai
Biarkan malam mendekap jiwa kita menjadi satu

_toddo lentu batujala







Sabtu, 17 Agustus 2024

Tak Ada Pilihan Lain

Tak ada pilihan selain meneruskan cita-cita
Para pahlawan bangsa Indonesia
Tak ada pilihan selain mengabdikan diri
Pada tanah air, tanah tumpah darah kita

Berpuluh tahun kita dalam belenggu kesengsaraan
Berpuluh tahun kita terkungkung dalam dekadensi moral
Tak ada pilihan selain meredam suara hampa
Tak ada pilihan selain membungkam beribu slogan kepentingan 

Kita harus terus menerjang-terjang
Sebab...
Kemerdekaan adalah darah dan nyawa yang hilang
Kemerdekaan adalah keringat dan air mata yang tumpah

Tak perlu bertanya-tanya
Manakah yang namanya kemerdekaan?
Kita hanya perlu berjalan terus
Bertarung, melawan, dan bertahan

Hanya ada dua pilihan
Merdeka atau mati

||17 Agustus 2024||Toddo Lentu Batujala





Senin, 12 Agustus 2024

Ibu Jiwa Keabadian

Tak ada nasihat sesejuk nasihat Ibu
Ia lebih dari sejuknya mentari pagi
Tak kata seindah sebutan Ibu
Ia lebih dari indahnya pelangi

Bagai Bumi menumbuhkan
Menjaga dan merawat pepohonan
Bagai Bunga yang tulus
Merawat bebuahan dan bebijian

Ibu bagai semerbak nektar
Merestui dan memberkati Lebah
Ibu bagai malam beribu bintang
Memancarkan cahaya menerangi jiwa

Tak ada kasih setulus kasih Ibu
Ia bak sang surya 
Tak akan pernah meninggalkan Bumi
Hingga malam merebahkannya ke dalam lentera

Ibu adalah jiwa keabadian pada setiap sujud
Ibu adalah segalanya pada setiap yang terlahir

Selasa, 06 Agustus 2024

Harapan di Kota Malang

Lihatlah perjalananku
Saksikanlah pengorbananku
Dari tanah leluhur
Kutinggikan doa dan syukur 

Perjalanan lampau diri sendiri
Mesti banyak dipelajari 
Dengan cinta dan kebijaksanaan
Aku telah menemukan perayaan

Tataplah mataku
Pandanglah wajahku
Mataku terbuka bahagia
Pada Sang Surya 

Semangat hidup yang dulu mentah
Kini terkurung dalam hukum Allah
Aku tak pernah terhenti berpikir
Sebab kehidupan tak kan pernah berakhir

Malang...
Lihatlah...
Pastikan dan saksikan
Perjalanan baru akan terungkap

||Kota Malang, 4 Desember 2023|| 
Abd. Rahman

Jumat, 02 Agustus 2024

Lebih dari Bintang

Ada sesuatu yang datang
Tetapi terasa hampa
Ada sesuatu yang hilang
Tetapi terasa tenang

Ada sesuatu yang terasa aneh
Saat langit semakin gelap
Ada sesuatu yang terasa berbeda
Saat mentari tertahan oleh sang fajar

Aku ingin terbang melewati
Batas cakrawala angkasa
Aku ingin berlari menerjang
Batas antara siang dan malam

Atau ...
Haruskah aku hanya tegak di sini
Menelusuri mimpi yang tak kunjung dicapai
Haruskah aku duduk dalam sepi, sendiri
Mengeja bait rembulan yang hampir redup
Di penghujung malam

Susuatu itu tak nampak
Tapi aku mengerti 
Jua sungguh indah tuk diresapi
Aku bahkan semakin menggilai

Hal itu seperti bintang
Bahkan lebih begitu terang nan indah
Hingga belati menusuk jantung 
Tiada rasa atas takjubku

Rabu, 31 Juli 2024

Padamu

Beberapa orang menghabiskan waktunya
Berjudi dan berpesta di diskotik
Tapi, aku memilih
Ingin menghabiskan waktuku 
Bersamamu dan menjelajahi kawananmu
Bahkan menghabiskan waktuku
Mati dalam dekapanmu

Aku jatuh cinta
Pada dahan dan rantingmu
Kokoh atau pun getasmu
Pada siang dan malammu
Terik, hujan, atau pun badaimu
Pada sungai dan danaumu
Bandang atau pun tenangmu

Kau saksi dan mengerti sepiku
Kau jua mengerti tentang luka hatiku
Bahkan kau mengerti rasa takut dan raguku
Engkau telah menjadi penawar
Atas bisa kerinduan yang melumpuhkanku
Engkau selalu peka 
Atas perkara lama yang tak pernah usai

Sekali lagi, aku jatuh cinta
Padamu ...

||Toddo Lentu Batujala
1 Agustus 2024

Sabtu, 27 Juli 2024

Terpupus

Sementara hari ini ...
Pemukiman dan tempat ibadah umat muslim Palestina
Luluh lantak akibat genosida Yahudi 
Para muslimah Al-Quds
Ditelanjangi dan diperkosa di tengah kota
Ibu dan anak dibantai dengan keji
Ayah dan pemuda disekap tanpa minum dan makan

Sepi ...
Sedu ...
Sedan ...
Mereka mati dalam kesendirian
Sedangkan pemimpin Muslim diam
Membungkam tak bisa berbuat apa-apa
Mereka ...
Terkungkung ...
Terbelenggu ...

Mereka hanya bisa
Menari di atas dekadensi moral
Memperluas batas-batas kekuasaan
Pupus dalam kepekaan dan kepedulian
Mereka lupa sejarah
Mereka hilang ingatan
Mereka kehilangan karakternya
Bahkan semakin jauh dari kehidupan

Tak ada lagi sosok Khalifah Almu'thasim
Yang mengusir pemberontak Yahudi dari negaranya
Tak ada lagi sosok Khalid bin Walid
Yang menaklukkan kekaisaran Romawi
Tak ada lagi figur Sang Penakluk Muhammad Al-Fatih
Tak ada lagi figur Salahuddin Al-Ayyubi

||Berau, 27 Juli 2024

Minggu, 21 Juli 2024

Arung

Hidup ia jua perjalanan
Pejamkan matamu
Biarkan pikiranmu memulainya
Biarkan jiwamu melambung
Biarkan semangatmu membara
Membawamu pada tempat yang diinginkan

Perjalanan mesti diteruskan
Tak peduli seberapa berat rintangannya
Juga bukan di mana kamu berakhir
Namun, bagaimana kamu bisa sampai
Perjalanan ini hadiah ...
Sekecil apa pun langkahmu rangkul dengan syukur

Kadang jua perjalanan terpanjang
Yang kita arungi hanya beberapa inci
Dari mata ke hati ... Karnanya ...
Perjalanan yang telah dimulai 
Jangan terhenti atau kelak
Segalanya jadi sia-sia

||Toddo Lentu Batujala
Balikpapan, 21 Juli 2024

Minggu, 30 Juni 2024

Cerpen - Kesalahan Berulang

Kesalahan Berulang

Abd. Rahman

 

Aku Toddo salah satu mahasiswa S2 Pendidikan Bahasa Indonesia asal Bantaeng, Sulawesi Selatan. Memiliki tekad untuk melanjutkan pendidikan setinggi-tingginya sesuai dengan disiplin ilmu yang Aku geluti saat ini. Sekitar setahun yang lalu Aku mendapatkan informasi program beasiswa bagi guru Muhammadiyah dan Aisyiyah oleh Universitas Muhammadiyah Malang. Tanpa berpikir lama, Aku langsung menyiapkan seluruh berkas dan persyaratan untuk mendaftar pada program beasiswa ini. Setelah mengikuti beberapa tahapan ujian program beasiswa ini hingga pada pengumuman kelulusan, akhirnya Aku dinyatakan lulus. Selanjutnya menyiapkan seluruh kelengkapan administrasi dan menunggu jadwal kuliah.

Program kuliah ini menggunakan dua teknik perkuliahan yaitu pertemuan secara daring dan luring. Setelah beberapa bulan perkuliahan secara daring, tibalah saatnya aku dan teman-teman kelas akan mengikuti perkuliahan secara luring di Kampus III UMM. Jadwal perkuliahan secara luring selama delapan pekan telah diterbitkan oleh Ketua Jururusan dan dibagikan grup WA. Setelah jadwal perkuliahan terbit, aku langsung menyiapkan segala kepeluan dan kebutuhan sebelum berangkat ke kampus UMM di Malang, Jawa Timur. Seluruh keperluan dan kebutuhan telah kusiapkan termasuk surat izin dari kepala kekolah tempatku mengabdikan diri sebagai tenaga pendidik, meskipun sekolah sudah mulai libur semerter, tetapi aku tetap memohon surat izin dari kepala sekolah sebagai bentuk integritas seorang pendidik.

Setelah beberapa hari aku memesan tiket dan menunggu jadwal keberangkatan Kapal dari Makassar – Surabaya, hari ini aku pamit kepada kedua orang tua dan akan naik mobil travel menuju pelabuhan Soekarno-Hatta di Kota Makassar. Aku berangkat pagi ke Kota Makassar karena kapal berangkat sore hari ini. Perjalanan Kapal dari Makassar – Surabaya selama dua hari, kemudian dari Surabaya ke Kota Malang naik mobil travel kurang lebih 2 jam perjalanan. Setelah sampai di Kota Malang aku dijemput oleh teman lalu diantar ke tempat kos yang telah aku pesan sebelumnya di Ibu Uswatun salah satu mahasiswa yang ikut di program ini, tetapi beliau beda kelas dengan aku, dia di kelas A sedangkan aku di kelas B.

Lokasi kos tempat Aku tinggal berjarak sekitar kurang lebih satu kilometer dari Kampus III Universitas Muhammadiyah Malang. Mata kuliah setiap hari padat dari pagi hingga sore hari dengan berjumlah enam mata kuliah per hari. Hari ini adalah pekan pertama dan pertama kali pertemuan langsung (luring) di Kampus III UMM setelah beberapa bulan mengikuti perkuliahan dalam jaringan (daring). Mata kuliah pertama hari ini adalah Inovasi Pembelajaran yang diampu oleh Pak Lentu. Cuaca pagi hari ini lebih cerah dibanding hari-hari sebelumnya.  Aku menuju kampus dengan berjalan kaki di tengah ramainya kendaraan pusat kota Malang.

Sesampainya di kampus, Aku langsung menuju kelas.  Setelah beberapa menit di kelas, Batujala salah satu teman kelas Aku pun datang dan langsung menghampiri dan bertanya.

“Toddo, bagaimana tugas mata kuliah hari ini, aman?”. Sapa dan tanya Batujala.

“Siap, aman terkendali kawan. Alhamdulillah akhirnya kita bisa bertemu langsung di kampus tercinta kita ini”. Jawab Aku dengan penuh semangat dan haru.

Tak lama kemudian, teman-teman kelas yang lain datang satu per satu, ada juga yang barengan. Mahasiswa telah ramai berlalu lalang dan ada juga yang bercengkrama di lorong-lorong kelas Pascasarjana.

Beberap menit kemudian, Pak Lentu baru saja tiba di parkiran dan turun dari motor antiknya dengan pakian yang sederhana dilengkapi dengan topi khas seniman atau sastrawan. Pak Lentu langsung menuju ke Gedung Kuliah Bersama (GKB IV), aku dan teman-teman bergegas masuk kelas untuk menyambut kedatangan Pak Lentu.

“Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, selamat pagi anak-anak! Bagaimana kabarnya hari ini, sehat?”. Sapa Pak Lentu dengan ekspresinya yang hangat.

“Wa alaikum salam warahmatullahi wabarakatuh, Alhamdulillah sehat Pak”. Jawab Aku dan teman-teman dengan penuh semangat.

Setelah mengabsen kehadiran dan menegaskan kembali materi perkuliahan, serta menyapa kedatangan kami yang pertama kali di kampus UMM, Pak Lentu langsung menyerahkan kepada teman yang bertugas selaku moderator pada presentasi topik materi hari ini yang sebelumnya presentasi dilakukan secara daring.

“Baik, kalau begitu. Silakan yang bertugas selaku moderator mengambil alih kelas hari ini!”

Pada saat memulai presentasi topik materi tiba-tiba Pak Lentu selaku dosen pengampu menahan Aku untuk melanjutkan presentasi materi.

“Toddo, sepertinya topik materi yang akan anda presentasikan hari ini tidak sesuai dengan rencana pembelajaran awal kita. Materi Model Pembelajaran telah dibahas pada pertemuan sebelumnya”. Sanggah Pak Lentu dengan ekspresi senyumnya yang khas diikuti teriakan dan tawa teman-teman kelas yang menjadi audiens.

Pak Lentu kemudian mengambil alih kelas dan meminta mahasiswa lain yang akan presentasi hari ini untuk maju ke depan kelas.

“Baik teman-teman sekalian, karena kelompoknya Lentu hari ini gagal mempresentasikan topik materi yang seharusnya diselesaikan, maka silakan mahasiswa lain maju ke depan untuk presentasi. Bagi Toddo, silakan mengerjakan ulang topik materi yang telah ditentukan.” Seru Pak Toddo dengan ekspresi yang lebih tegas.

“Baik Pak.” Jawab Aku dengan tenang.

Akhirnya yang maju untuk presentasi hari ini adalah teman Aku yang lain.

Aku merasa tidak nyaman dengan kejadian ini, hingga akhirnya aku pindah duduk di bagian paling belakang. Waktu terus berjalan dan presentasi materi teman kelasku pun berjalan lancar, tetapi aku masih kepikiran.

“Bisa-bisanya aku salah materi, sudah capek-capek mengerjakan hingga begadang juga”. Kataku dalam hati.

“Hei, Batujala! Sebenarnya ini materi yang mana sih?” tanyaku sambil berbisik kepada Batujala yang duduk pas di sampingku.

“Yah, aku juga kurang tahu Toddo”. Jawab Batujala dengan menyondongkan badannya ke dekatku sambil sedikit menunduk.

Aku hanya melihat Batujala dengan ekspresi pusing dan kebingungan. Setelah beberapa menit presentasi yang dilanjutkan dengan diskusi tanya jawab antara teman penyaji dan teman-teman lain sebagai audiens. Kelas pun diambil alih oleh Pak Lentu untuk ditanggapi dan dievaluasi. Sebelum mata kuliah ditutup, Pak Lentu kembali mengingatkan kepada aku untuk materi selanjutnya jangan lagi salah judul atau topik utama materi.

“Toddo, saya ingatkan kembali yah untuk topik selanjutnya jangan lagi salah topik seperti hari ini.” Seru Pak Lentu dengan tegas.

“Baik Pak, insyaallah selanjutnya akan sesuai dengan topik yang diberikan.” Jawabku dengan tenang sambil menatap Pak Lentu dengan santun.

Mata kuliah Pak Lentu hari ini telah usai. Aku dan teman-teman melanjutkan mata kuliah yang lain tetap di kelas yang sama Ruangan 2.9 GKB IV hingga sore hari menjelang magrib.

Pekan ketujuh kuliah luring dilaksanakan, aku kembali mendapat giliran mempresentasikan topik materi pada mata kuliah Inovasi Pembelajaran yang diampu oleh Pak Lentu. Hari ini mata kuliah ini dilaksakan pada jam terakhir sore hari, tetapi aku tetap sangat bersemangat untuk tampil di depan kelas menyampaikan topik materi yang telah kusiapkan dengan baik. Pertemuan kali ini adalah pertemuan terakhir untuk seluruh mata kuliah tak terkecuali Inovasi Pembelajaran sebelum ujian semester dilaksakan pada pekan kedelapan.

“Assalamuaalaikum warahmatullahi wabarakatuh, selamat sore teman-teman.” Salam dan sapa Pak Lentu dengan hangat.

“Wa alaikum salam warahmatullahi wabarakatuh, selamat sore Pak.” Jawab aku dan teman serentak dengan penuh semangat.

“Bagaimana kabarnya hari ini, masih semangat?” tanya Pak Lentu dengan senyumnya yang khas.

“Alhamdulillah baik dan tetap semangat Pak.” Kembali kami jawab serentak dengan penuh semangat.

Sebelum presentasi dimulai, seperti biasanya Pak Lentu kembali memberi penegasan ulang terhadap topik materi yang sebelumnya telah dipresentasikan dan didiskusikan.

“Baik teman-teman, selanjutnya untuk yang mendapat giliran terakhir mempresentasikan topik materi mata kuliah kita hari ini adalah Toddo.” Tegas pak Lentu

“Bagaimana kesiapannya, Toddo?” Tanya Pak Lentu dengan hangat.

“Insyaallah siap Pak, Bismillah.” Jawabku penuh semangat.

“Baik, kalau begitu silakan maju ke depan bersama moderator.” Seru Pak Lentu.

Aku pun segera maju ke depan dan mengajak Batujala sebagai moderator kali ini. Baru saja Batujala membuka dan mempersilakan aku untuk memperesentasikan topik materi yang baru saja aku tampilkan, tiba-tiba Pak Lentu kembali menyanggah dan menghentikan kami berdua dan ternyata topik materi aku lagi-lagi salah, topik materiku kali ini sudah dibahas saat perkuliahan daring sebelumnya. Akhirnya aku pun kembali dapat teguran dari Pak Lentu dan membuat beliau merasa kecewa karena kembali terulang kesalahan yang sama kulakukan.

Setelah perkuliahan usai, aku mengikuti Pak Lentu ke ruang dosen dengan niat memohon petunjuknya atas kesalahanku yang kedua kali ini.

“Izin pak, aku benar-benar minta maaf atas kesalahan topik materi di kelas tadi. Harusnya koordinasi kembali baik kepada Bapak atau pun kepada teman-teman kelasku yang lain sebelum aku melakukan presentasi di kelas.” Jelasku kepada Pak Lentu.

“Yah sudah, tidak apa-apa. Silakan kamu membuat artikel saja salah satu dari topik materi yang harusnya kamu presentasikan.” Seru Pak Lentu.

“Pak, itu sangat berat kalau harus membuat artikel disamping banyak tugas kuliah yang lain dan juga persiapan ujian semester pekan depan.” Jawabku dengan santun dan tunduk di hadapan Pak Lentu.

“Ambillah itu sebagai resiko dari kesalahanmu, aku beri waktu hingga empat hari setelah ujian semester pekan depan selesai.” Tegas Pak lentu kembali.

“Apakah tidak ada pilihan lain Pak?” tanyaku kembali dengan penuh harap.

“Yah, itu saja pilihannya.” Jawab Pak Lentu dengan tegas.

“Baik Pak, aku terima. Kalau begitu aku pamit.” Sambil menjabat dan mencium tangan Pak lentu lalu keluar dari ruang dosen.

Empat hari setelah ujian semester usai, tugas artikelku tentang Inovasi Pembelajaran baru saja kuselesaikan dan siap kukirim ke Pak Lentu. Akhirnya setelah melewati perjuangan yang sangat melelahkan karena harus membagi dan menambah waktu begadang tiap malam untuk menyeselsaikan artikel ini sambil mengerjakan tugas mata kaliah yang lain dan pesiapan ujian semester.

“Assalamualaiku warahmatullahi wabarakatuh, selamat siang Pak. Izin Pak, Aku kirim tugas artikel hari ini.” Lewat WhatsApp.

“Baik Toddo, aku akan buka nanti malam. Selamat dan sukses selalu.” Balas pak Lentu Lewat WhatsApp.

“Aamiin, terima kasih Pak” balasku kembali lewat WhatsApp.

Malam pun tiba, setelah pulang salat Isya di Masjid Darussalam yang terletak kurang lebih 100 meter dari kos, aku berbaring di kamar sambil menunggu informasi dari Pak Lentu dengan memantau pesan masuk WhatsApp dan berharap semoga saja artikelku tidak ditolak. Setelah beberapa menit menunggu, akhirnya pesan WhatsApp dari Pak Lentu masuk.

“Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, selamat malam Toddo. Artikelmu sudah kubuka dan kubaca, artikelmu bagus dan aku terima meskipun ada beberapa hal yang perlu direvisi, tapi tidak apa-apa biar aku yang sunting sebelum dikirim ke penerbit” Isi pesan Pak Lentu.

“Waalaikum warahmatullahi wabarakatuh, terima kasih Pak semoga bisa segera diterbitkan artikelnya.” Jawabku lewat pesan.

“Baik Toddo, silakan menunggu.” Balas Pak Lentu.

“Siap pak.” Balasku kembali

“Alhamdulillah akhirnya malam ini aku sangat lega semoga saja artikelku ini segera terbit dan mendapatkan nilai yang terbaik pada mata kuliah ini dari Pak Lentu.” Harapku dalam hati dengan penuh semangat.

Akhirnya aku bisa pulang ke Makassar dengan tenang besok sore. Aku telah memesan tiket kapal Surabaya – Makassar tepat hari kelima setelah ujian semester. Sebagaian teman-teman menyempatkan waktu untuk jalan-jalan di beberapa objek wisata yang ada di Kota Malang dan sekitarnya, tetapi aku memilih pulang lebih cepat karena banyak kerjaan yang juga mesti diselesaikan di sekolah.

Setelah satu pekan tiba di Bantaeng, akhirnya hari ini pengumuman hasil ujian semester 1 akan diterbitkan akun resmi infokhsumm.co.id. Alhamdulillah nilaiku mendapatkan predikat Cumlaude dan nilai A pada seluruh mata kuliah semester 1 ini. Bertepan dengan itu informasi dari Pak Lentu tentang artikel Inovasi Pembelajaran juga telah diterbitkan dan semua teman-teman kelas dan seangakatan memeberi uacapan selamat atas pencapaian telah menerbitkan artikel.

“Ini benar-benar suatu pencapaian yang sangat luar biasa setelah melewati berbagai hal rintangan dan tantangan selama proses perkuliahan berlangsung. Aku percaya bahwa tidak ada hasil yang akan mengkhianati proses. Terima kasih untuk diriku yang selalu semangat dan pantang menyerah.” Kata dalam hati dengan penuh haru dan bangga.

 

 

 

 

 

 

 

 


Mujahidin Palestina (Mati Setelah Berarti)


Abd. Rahman (Toddo Lentu Batujala)

Janganlah sekali-kali kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati. Sebenarnya mereka itu hidup dan dianugerahi rezeki di sisi Tuhannya. Mereka bergembira dengan karunia yang Allah anugerahkan kepadanya dan bergirang hati atas (keadaan) orang-orang yang berada di belakang yang belum menyusul mereka, yaitu bahwa tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati.” (Alquran Surat Ali Imran, 169-170).

 

Selama masih ada tangis di tanah An-Biyah

Jangan mengira kita semua sudah cukup dengan bersedih

Selama masih ada jeritan bergema di pelataran Al-Aqsa

Jangan mengira kita semua sudah layak tertawa

 

Jika masih ada genosida di Yerussalem

Apakah kita layak menilai berdasar kebencian?

Jika masih ada kejahatan perang di Palestina

Apakah gunanya hukum perang internasional?

Haahhh ….

Di mana kaum pemikir sosialis

Di mana pemegang otoritas dunia

Kala Gaza dilanda penindasan dan pembantaian

Apakah mereka menjadi alat kezaliman?

Lalu, di mana letak humanis atas kebiadaban Zionis?

 

Anak-anak dan balita Palestina

Gemetar meneteskan air mata

Dengan luka dan tekanan mental

Mereka berkata … ini tanah kami

Kami bukan tamu, bukan pula pendatang

Berikan hak kami

Yang hendak dirampas kaum Zionis

 

Allahu Akbar … Allahu Akbar …

Seruan takbir mujahidin bergemuruh

Meninggikan doa agar iman tetap tegak

Sebab, tauhid wajib dilangitkan

Laa ilaaha illallah

 

Darah mujahidin tumpah di tanah yang suci

Berperang melindungi Baitul Maqdis

Jiwa syuhada mengawal tegaknya kebenaran

Menorehkan arti sebuah perjuangan

Mengukir arti sebuah harapan kemerdekaan

 

Wahai… Al-Aqsa

Di tanah kiblat utama umat muslim

Dengan tetesan darah dan air mata

Dengan semangat juang penuh rasa cinta

Pastikan dan saksikan mereka yang gugur

Syahid … Aamiin 

Selasa, 23 April 2024

Sebelum Waktuku

Sebelum kegelapan meneguk senja
Dan angin menggugurkan dedaunan
Izinkan aku mengabadikanmu
Dalam bait-bait sajak ini

Sebelum embun pagi mengering  
Dan mentari terbit dari peraduannya
Kau akan tetap tersiasati 
Pada larik sajak ini

Suatu hari nanti
Impianku tak lagi kau kenang
Engkau tetap permataku
Yang tak akan lekang oleh waktu

Kelak sampai waktuku
Suaraku tak lagi kau dengar
Maka carilah daku 
Di sela-sela huruf sajak ini

||Toddo Lentu Batujala|| Bantaeng, 24 April 2024

Maafkan Aku

Kekasihku
Dari ketulusan hatimu 
Aku melihat cahaya surga
Pada kehidupan selanjutnya

Ungkapan hatimu yang tulus 
Dari mulutmu tentang impianmu
Tentang aku
Setiap detiknya akan selalu kuingat

Saat kau kembali 
Tak hentinya aku menunggu kabarmu
Hingga menjadi rutinitas tak membosankan
Bertanya tentangmu dan memberi kabar untukmu

Kau langkah kaki yang kuiringi doa dan harap
Sungguh remuk jantungku
Melihat air mata jatuh di pipimu
Mendengar sedu tangismu

Aku berani membenamkan senja di matamu
Tapi aku mohon, hiduplah bersamaku
Akan kujilat sebutir debu di telapak kakimu
Maafkan aku

||Toddo Lentu Batujala|| Bantaeng, 23 April 2024

Minggu, 21 April 2024

Sia-Sia

Aku tak menyalahkan mereka
Mungkin mereka pikir aku ini pemilik jasad yang bermalas-malasan
Siapa yang menyangka aku sedang sakit dan tak terpedulikan

Aku tak menyalahkan mereka
Mungkin mereka pikir aku ini pemilik pikiran yang bebal
Siapa yang menyangka aku sedang berjalan dan bertemu topeng-topeng kemunafikan

Isi hati tak ada yang tahu
Begitu pula isi perut
Semuanya tersembunyi
Hanya bisa dilihat dengan mata hati

Keburukan dan kebajikan bisa diputuskan
Nasib baik dan nasib buruk mesti direncanakan dari awal

Sabbiku rewata
Saya sedang merencanakan nasib saya
Tidak tahu apa akan jadi baik atau buruk
Saya hanya mempersiapkan diri untuk menerima-Mu di rumah sejatiku
Datanglah kapan saja

Sia-sia
Semua akan berakhir dalam sebuah kematian
Tanpa kawan
Mati dalam kesendirian

||Toddo Lentu Batujala|| 21 April 2024

Selasa, 16 April 2024

Tak Ada Pusara

Sang Surya sekarang sudah terbenam
Dan senja berkata
Terberkatilah rohmu
Serta jiwamu yang telah bersemayam pada alam lain

Dalam hening, rohmu berkata
Apakah aku sedang terbangun dari tidurku?
Bukankah aku baru saja bermimpi?
Aku ingin kau dengar dan menjawab tanyaku
Dan Tuhanmu menjawab dengan mengutus malaikatnya

Engkau tidak tergesa-gesa dibanding badai hujan
Namun engkau tetap saja akan pergi
Sambil berbicara penuh kasih
Engkau tetap akan melakukan perjalanan
Bahkan saat waktu terhenti dan bumi sedang tidur

Engkau pergi bersama angin
Tetapi tidak dalam kehampaan
Dengan hati yang lebih lapang
Dan bibir yang berserah pada Tuhan
Aku ingin berbicara
Tak ada pusara di sini
Gunung dan dataran ini adalah tempat lahir

Engkau tetap bermurah hati
Dari segala ketidakpatuhan
Engkau telah memberi dahaga 
Tentang kehidupan yang selalu menjadi guru terbaik
Tentu saja tidak ada anugerah yang lebih besar
Selain mengubah kehidupan menjadi mata air

Seperti keheningan dan kegelapan membangunkan fajar
Bagai kebisingan dan kesibukan meneguk senja
Sebentar lagi kerinduan akan mengumpulkan bui
Lalu menyeretnya ke pantai

||Toddo Lentu Batujala||
Puncak Sinoa, 16 April 2024

Sabtu, 13 April 2024

Aru Butta Toa dan Terjemahan Bahasa Indonesia

Tabe...
Tabe Karaeng...
Tabe... 
Kipammopporang nama (Maafkan aku)
Ri dallekang malabbirikta (di haribaanmu yang mulia)
Ri empoang masungguta (di tahtamu yang agung)
Ri sakri karatuangta (di sisi kebesaranmu)

Sabbiku rewata (Saksiku Tuhan kita)
Anne badikku akdallek naik (Ini Badikku menghadap ke atas)
Anjari sakbi ri Karaeng (menjadi saksi pada Tuhan)
Ampajjaria lino lollong bonena (yang menciptakan bumi dan isinya)
//
Anne selekku rua matanna (ini kerisku bermata dua)
Sekre akdallek assuluk (satu menghadap ke luar)
Sekre akdallek antamak (satu menghadap ke dalam)
Cappakna akdallek naik (dengan ujung menghadap ke atas)
Ri Karaeng ampajjaria lino lollong bonena (kepada Tuhan yang menciptakan bumi dan isinya)

Takkang bassina Sinoa (Tongkat besi dari Sinoa)
Bannang kebokna Lembang (Benang putih dari Lembang)
Sabbe tamamminrana, tonasa tamatimpungna (Corak tak akan pudar, inti kayu tak akan lapuk)
Tana Loe Gantarangkeke (nama daerah)

Inakkemi anne karaeng (akulah karaeng) 
Lambara tatassallanna Butta Toa (satria dari tanah Butta Toa) 
Nakareppekangi sallang karaeng (akan memecahkan kelak) 
Pangngulu ri barugayya (hulu keris di arena) 
Nakatepokangi sallang karaeng (akan mematahkan kelak) 
Pasorang attangnga parang (gagang tombak di tengah gelanggang) 

Inai-naimo sallang karaeng (barang siapa jua) 
Tamappatojengi tojenga (yang 'tak membenarkan kebenaran) 
Tamappiadaki adaka (yang menantang adat budaya) 
Kusalagai siri'na (kuhancurkan tempatnya berpijak) 
Kuisara parallakkenna (kululuhkan ruang geraknya) 
Berangja kunipatebba (aku ibarat parang yang dihantamkan) 
Pangkulu kunisoeyang (kapak yang diayungkan)

Punna gitte ri dallekang Karaeng (Jika engkau di depan Karaeng)
Sakri tabbalakna Butta Toa (Samping banyaknya Butta Toa)
Mammiknawang ri bokota (mengikutimu dari belakang)
Anraik-raikki karaengku anraik tonga (anda ke utara karaengku, saya ikut jua)
Kalauk-kalaukki karaengku kalauk tonga (anda ke selatan karaengku, saya ikut jua)
Punna gitte pokok kayu Karaeng (engkau ibarat pohon kayu Karaeng)
Inakke ngaseng tumallaklang (Kami semua berteduh)
Ammirikko anging (berhembuslah angin)
namarunang lekok kayu (kurela gugur bersamamu)

Punna gitte jekne Karaeng (engkau ibarat air Karaeng)
Inakke batang kayu (aku ibarat batang kayu)
Assolongko jekne (mengalirlah air)
Namammanyuk batang kayu (kurela hanyut bersamamu)

Punna gitte jarung Karaeng (engkau ibarat jarum Karaeng)
Inakke bannang panjaik (aku ibarat benang jahit)
Antamakko jarung (menembuslah jarum)
Namminawang bannang panjaik (aku akan ikut bekas jejakmu)

Manjjokjok mamaki mae Karaeng (menunjuklah Karaeng)
Na inakke mappabbotti ( dan aku akan buktikan)
Mannyabbuk mamaki mae Karaeng (bertitahlah Karareng)
Na inakke mappajjari (dan aku akan berbuat)
Makkana mamaki mae Karaeng (bersabdalah Karaeng)
Na inakke mappakruppa (dan aku akan berbakti)

Punna sallang takamayya (bila nanti janji tidak kutepati)
Aruku ri dallekangta Karaeng (sebagaimana ikrarku di hadapanmu Karaeng)
Pangkai jerakku (pasak belah pusaraku)
Tinrak bate onjokku (coret jejakku dalam sejarah)
Pinra arengku (ganti namaku)
Pauang anak jariku (sampaikan pada anak cucuku)
pinruang tuju pinakkakku (dua kali tujuh turunan)

Tumakkanayya Karaeng (apabila hanya mampu berikrar)
Na tana ruppai kanangna (Namun tidak mampu menepati Ikrarnya)
Ri lino niak boyangna (di dunia bisa dicari)
Niak pisi-pisiangna (bisa diatur-atur)
Ri anjapi sallang (kelak di akhirat)
Sannging tau sassaklalang mami (Semua hanya orang dalam penyeselan)

Sikammaji anne aruku ri dallekangta Karaeng (demikian ikrarku di hadapanmu Karaeng)
Dasi na dasi natarima Allah Ta'ala (semoga Allah Ta'ala menerimanya)
Naki para salamak (dan kita masing-masing selamat)
Aamiin ...

Kamis, 11 April 2024

Islam dan Mazhab Barat

Kapitalisme akan membawa bencana karena terlalu mementingkan kepentingan perorangan warga masyarakat, memasung hak-hak kolektifitas masyarakat.

Komunisme justru akan menghilangkan hak-hak sah dari individu yang menjadi warga masyarakat, memasung hak-hak individu masyarakat.

Islam tidak berada pada kedua mazhab kapitalisme dan komunisme, Islam meletakkan pandangan sebagai jalan tengah antara kapitalisme dan komunisme. Islam memberikan pemecahan dengan jalan menyeimbangkan antara “hak-hak masyarakat” dan “hak-hak individu”.

Derajat Keterpisahan Manusia dari Dirinya

Manusia adalah makhluk yang punya kata hati bersifat moral-bawaan
Kata hati yang bersifat moral ini tumbuh dari jati diri manusia 
Dan itulah yang dibutuhkan oleh watak dasar manusia

Manusia adalah makhluk asli
Memiliki kemandirian di antara makhluk lainnya
Manusia adalah makhluk yang memiliki sifat Ilahiah
Yaitu kemerdekaan dan kebebasan memilih

Manusia adalah makhluk yang sadar tentang dirinya sendiri
Manusia adalah makhluk kreatif
Manusia adalah makhluk yang misterius
Manusia adalah makhluk yang punya cita-cita
Manusia adalah makhluk yang berakal Menjadi pembeda di antara makhluk-makhluk lainnya

Jejak Hati antara Pasar Anjayya dan Lembah Karisma

Ini bukan tentang perihal hobi tapi ini tentang cinta dan hingga kini aku tidak mampu menjelaskan kecintaan ini sebagaimana cinta hingga kini belum mampu didefinisikan. Tapi aku ingin menyampaikan bahwa aku sedang rindu, mungkin saja rindu adalah bagian dari arti sebuah cinta.

Yaahh, aku merindukan perjalanan dan kebersamaan dalam pencapaian harapan dan tujuan. Dalam lingkup pegiat alam bebas, ekspedisi alam, dan pendakian gunung. Segala harapan itu adalah mencapai puncak gunung dan selamat sampai kembali ke rumah, kemudian tujuan adalah untuk mengukur kemampuan diri serta belajar merendahkan keangkuhan.

Kerinduan ini mengingatkan aku tentang tempat-tempat yang sering dilalui dan disinggahi untuk melepas penat dan lelah para pendaki gunung. Yaahh, PASAR ANJAYYA & LEMBAH KARISMA. 

Sekitar 30 menit berjalan dari puncak gunung Lompobattang, pandangan kami arahkan ke sebelah kanan dengan radius pandang 1700 meter ke bawah, kami dapat melihat tanah lapang yang luas dan dikelilingi pepohonan yang rindang… aneh tapi nyata yahhh benar saja itulah PASAR ANJAYYA, dari bahasa setempat Anjayya artinya “orang mati” jadi Pasar Anjayya artinya pasarnya para orang-orang yang telah mati. 

Wow… menurut cerita para pendaki pendahulu kami, cuman sedikit pendaki yang berani masuk ke sana, banyak hal yang di luar logika terjadi, salah satunya pernah ada pendaki yang tidak bisa keluar dari lokasi area Anjayya dua hari dua malam baru dapat keluar dari lokasi tersebut. Ada juga cerita dari senior kami pada saat dia masuk ke dalam area anjayya botol air minum seperti ada yang remuk-remukkan, bahkan katanya kalau hari kamis sore dan malam Jumat orang yang masuk ke sana akan mendengar suara-suara ramai layaknya ketika berada di pasar. itu sedikit cerita yang saya dengar.

Menurut mitos, konon kabarnya dari cerita rakyat setempat Pasar Anjayya merupakan titik pusat aktifitas jin dan mahluk gaib yang sangat kuat dan mempunyai nilai historis mistis yang menjadi cerita turun temurun oleh warga setempat wallahu A'lam! 

Pasar Anjayyya dan Lembah Karisma akan kita lalui jika melakukan pendakian lintas gunung Lompobattang-Bawakaraeng, sebab keduanya berada tepat di antaranya. 

Umumnya Lembah Karisma dijadikan camp para pendaki yang lintas dari Gunung Lompobattang ke Gunung Bawakaraeng. Untuk menuju Lembah Karisma dari puncak Lompobattang kita mengambil jalur kanan, dan sebelum turun ke Lembah Karisma kita terlebih dahulu melewati medan yang sangat Ekstrim dengan melalui beberapa punggungan gunung dengan berjalan miring dan pijakan yang sangat sempit, menuruni jalan yang curam (patahan) dan berbatu serta beberapa jalur yang mudah longsor. Setelah melewati turunan yang curam, kita mulai memasuki hutan yang banyak ditumbuhi pohon rotan dengan duri-durinya yang sangat tajam. Perjalanan menuju Lembah Karisma dapat ditempuh selama 6-7 jam dan mengambil jalur kanan, apabila kita terus kita akan sampai di puncak Ko’bang, menurut cerita warga sekitar di sini terdapat makam Raja Gowa dan di sini juga biasanya dijadikan tempat ritual dan juga sebagai tempat Naik Haji dan Sholat Iduladha bagi warga sekitar. Perjalanan menuju Lembah Karisma dilakukan dengan jalan yang menurun dengan sudut kemiringan ± 850. Setelah melewati penurunan yang sangat terjal kita akan mendapatkan medan yang landai hingga akhirnya tiba di post 15 atau Lembah Karisma.

Di Lembah Karisma terdapat dua sungai kecil dan terdapat pula tempat Camp yang luas. Nama karisma itu sendiri di ambil dari salah satu Perkumpulan Pecinta Alam atau biasanya di singkat dengan KPA, karena merekalah yang pertama kali menemukan lembah ini kemudian mereka memberikan nama Lembah Karisma, di lembah ini terdapat dua aliran sungai kecil. Lembah Karisma berada pada ketinggian 2236 mdpl.

Untuk apa dilahirkan?

Generasi telah menemukan jawaban 
Dari pertanyaannya selama kurang lebih 14 tahun
Dalam dunia pendidikan formal
Namun ketika jawaban itu disandarkan kepada para orag tua 
Hanya jawaban layaknya fiksi yang didapatkan 
Bahkan tidak diapresiasi oleh mereka.

Tak akan ada kedamaian dan ketenangan pada bangsa ini
Semua penyimpangan yang dilakukan kaum borjuis
Tidak dapat diproses secara adil sesuai dengan hukum yang berlaku
Pelaku hanya candaan dan pengujian semata kepada pihak yang berwenang

Suara kaum proletar tak mugkin engkau dengarkan 
Memasung hak-hak rakyat sebagai warga negara ini
Bahkan membelenggu rakyat dalam tirani dan kediktatoran

Wahai para pahlawan bangsa ini akankah engkau mengakui mereka sebagai generasimu? 
Sedang suara pemuda tak lagi didengarkan 
Bahkan mereka para orang tua tak ada lagi yang bisa dipercaya 
Untuk menjadi pengayom dan penjaga kedamaian bangsa ini

Pemuda bicara dibungkam oleh media
Gerakan murni pemuda dihadang aparatur rezim
Layaknya orde baru sedang masa ini katanya reformasi

Wahai para orang tua, untuk apa kami dilahirkan?

Rabu, 10 April 2024

Perubahan Sosial: Arah Gerak Kemajuan Teknologi Terhadap Ummat Dan Bangsa

Loyal Thinking begitu kata Cak Nur jika dia berbicara tentang sebuah kemajuan berpikir mengalami kebuntuan yang memungkinkan sebuah peradaban ada pada titik kritis karena ketidaksadaran individu atau kelompok dalam memaknai sebuah perubahan sosial. Ironi memang ketika kita melihat saat ini banyak yang telah berburuk sangka terhadap sebuah perubahan dan bahkan banyak yang telah secara sporadis membuat gerakan sekularis menantang segala aspek perubahan yang terjadi. Tetapi tidakkah kita sadar bahwa sebagian masyarakat majemuk yang berada pada tatannan sosial yang kompleks harusnya kita lebih dapat toleran terhadap perubahan itu sendiri. Karena saya yakin bahwa proses dialektika sosial akan membawa pada pola kesempurnaan yang beragam di masyarakat. 

Pola kesempurnaan yang saya maksud adalah pola yang terbentuk akibat banyaknya warna yang berevolusi menghasilkan sebuah tatanan kompleks dari sebuah peradaban yang indah dan dinamis. Tanda wujudnya peradaban, menurut Ibnu Khaldun adalah berkembangnya ilmu pengetahuan seperti fisika, kimia, geometri, aritmetik, astronomi, optik, kedokteran bahkan maju mundurnya suatu peradaban tergantung atau berkaitan dengan maju mundurnya ilmu pengetahuan. Tetapi keindahan ini jangan sampai hanya hayalan yang tak bisa kita wujudkan karena adanya loyal thinking yang membuat nalar tak bergerak untuk melihat sebuah perubahan sosial menjadi kesempatan untuk menyempurnakan pola sosial, tapi sebelum kita lebih lanjut membahas mengenai perubahan sosial dan apa yang menjadi aspek penting dari wacana ini mari kita sedikit kembali belajar dari sejarah kebangkitan Eropa yang kita kenal dengan zaman renaisans. Seperti yang kita ketahui bersama bahwa pada zaman itu ada benturan sosial yang sangat luar biasa antara konsep teologi dan konsep rasionalisme yang diwacanakan oleh para kaum pemikir dan seniman pada saat itu. Benturan sosial pada saat itu membuat segala aspek sendi kehidupan menjadi berubah, baik itu sosial budaya dan bahkan agama yang paling mendapatkan dampak dan sorotan oleh para kaum pemikir kritis di zaman itu. Di zaman itu kita dapat melihat beberapa tokoh pemikir dan seniman melakukan protes dengan cara mereka masing-masing. Protes ini diawali dengan ketidakterimaan para kaum pemikir dan seniman pada saat itu dengan kesewenang-wenang para kaum gereja dan kerajaan dan puncaknya saat gereja mengeluarkan surat jaminan masuk surga, yang surat itu harus dibeli dengan harga yang cukup mahal untuk menggarangsikan seseorang untuk masuk surga. Meskipun tidak semua kaum teolog Kristen menyetujui itu tetapi dengan legalitas dan perlindungan yang dimiliki gereja oleh pihak kerajaan sehingga dianggap bahwa ada kerja sama yang dilakukan oleh kaum gereja pada saat itu dengan pihak kerajaan adalah bentuk penindasan yang sangat tidak bisa diterima oleh rakyat yang saat itu menyelami keterpurukan secara ekonomi. Maka hal itulah yang memicu gelombang protes pada kaum gereja dan kerajaan dengan munculnya tokoh seniman yang membuat karya yang sedikit menyimpang dari konsep teologi seperti patung yang dibuat telanjang dan anmoral lainya, hal ini juga terjadi pada kau pemikir yang sudah tak percaya agama lagi, poros pencarian kebenaran mereka menjadi lebih berpandangan bahwa agama hanya alat untuk memperlanggeng kekuasaan untuk menindas rakyat. Maka agama tidak lagi diperlukan dalam membentuk tatanan sosial yang ada di masyarakat.

Peradaban Islam mempunyai keistimewaan berbanding peradaban pendahulunya. Karena peradaban Islam bertahan lebih lama dari peradaban orang-orang Kaldan, Suryani, Persia dan Yunani. Bukanlah hal yang diragukan lagi, panji peradaban yang sekarang berpindah ke Eropa dari zaman renaissanse bersumber dari orang-orang Islam, yang pada masa selanjutnya mengalami perkembangan sampailah kepada zaman kita hari ini, dan mulai kembali lagi kepada orang Islam. Kenyataan ini sesuai dengan apa yang dinukil oleh Nur Kholis Majid pada pendahuluan terjemahan buku W. Montgomery Watt, yang berjudul “Islam dan Peradaban Dunia: Pengaruh Islam Atas Eropa Abad Pertengahan”. Ia manyatakan “perhatikan saja istilah-istilah ilmiah dalam peradaban Barat: sebagian besarnya berasal dari bahasa Arab, seperti zero, summit dan sebagainya. Demikian juga dengan istila-istilah matematika dan astronomi. Dalam acara pengajian Yayasan Wakap Paramadina, ada seorang penatar guru-guru matematika di bidang sains dan Ketua Asosiasi Astronomi Indonesia. Dalam salah satu kesempatan dia mengatakan, bahwa tujuh puluh persen nama bintang di langit berasal dari bahasa Arab".

Ungkapan seperti ini bukan hanya dari pihak orang Islam, namun ia juga diakui oleh orang Barat sendiri. Thatcher dan Chawel secara tegas mengatakan bahwa bangsa Eropa sangat berhutang dengan kedatangan Islam. Banyak ilmu yang dapat ditemukan sehingga dapat diadopsinya seperti ilmu falak, fisiologi dan masih banyak lagi. Kesan serupa juga diungkapkan oleh Sartios, ia mengatakan bahwa bidang-bidang ilmu pengetahuan yang dibawa Islam terutama ilmu dan penerapannya lebih banyak dari pada dari Bizantium. 

Penting dicatat disini, bahwa pemberian pujian atas sains Islam merupakan fenomena baru abad ke-20. Tidak akan ditemukan hal yang sama di dalam literatur orientalis abad ke-18 dan ke-19. Alasannya sangat jelas, sampai periode supremasi bangsa Eropa, Islam telah menjadi lambang ancaman militer dan moral yang penting bagi agama Kristen, karena Islamlah agama alternatif yang amat kuat dan berkembang pesat. 

Di pertengahan abad ke-8 M, ketika Afrika Timur dan Barat menikmati kenyamanan dalam segi material, kebersamaan, keadilan, dan kesejahteraan di bawah naungan pemimpin Islam, tetangganya di jazirah Spanyol berada dalam keadaan menyedihkan di bawah kekuasaan tangan besi penguasa Visighotic. Kemudian pada tahun 750 M, Islam memasuki Andalusia di bawah pimpinan Panglima Thariq, seorang remaja berkebangsaan Barber yang baru memeluk Islam. Sebenarnya masyarakat kelas ke-2 dan kelas ke-3 di Andalusia telah mendengar akan ketinggian moral dan peradaban Islam, sehingga kemenangan Panglima Thariq disambut dengan gegap gempita oleh masyarakat setempat. Pada masa selanjutnya kehadiran Islam di Eropa Barat Daya tersebut bagaikan cahaya di tengah kegelapan. Di bawah pimpinan pemerintah Islam, Andalusia mengalami kemajuan pesat seiring dengan peradaban-peradaban Islam pada masanya. Andalusia menjadi setinggi-tinggi peradaban selari dengan peradan di negeri-negeri Islam tetangganya yang berkilauan bagaikan bintang-bintang di antariksa, layaknya negeri “seribu satu malam".

Mulai abad delapan mazhab Maliki berkembang pesat di seluruh penjuru Afrika Utara sebagai administrasi hukum, pendidikan dan legitimasi. Dua abad kemudian Sufisme juga menjadi basis pengorganisasian warga pedalaman di Tunisia, Aljazair dan Maroko. Ia menjadi pemimpin koalisi kesukuan sebagai perlawanan bagi rezim negara (Lapidus, 2000, pp. 629–630).
  
Saat keberadaan umat muslim di Spanyol berakhir, masyarakat muslim di Afrika Utara justru memasuki tahap perkembangan baru. Dengan kehancuran Dinasti Al-Muwahhidun mulai terbentuk konfigurasi baru antara negara dan masyarakat. Meskipun pola kekhalifahan tetap dilanjutkan namun negara-negara Afrika Utara mengarah pada pola struktur institusional Timur Tengah model Saljuk dan model Mamluk-Ayyubiyah di Mesir. Beberapa rezim dibentuk mewarisi Dinasti AlMuwahhidun dimana mereka didukung mawali (golongan muslim non-Arab), pasukan budak, pasukan bayaran dan birokrasi keluarga yang bergantung pada kesukuan yang berkuasa. Sejalan dengan hal tersebut terjadi penyebaran Sufisme.
Dari Andalusia inilah (sekarang dikenal Spanyol) masyarakat Eropa menyerap peradaban Islam baik dalam bidang politik, ekonomi, sosial, dan peradaban antar negara, tidak terkecuali ilmu pengetahuan dan teknologi. Sebagaimana Watt menyatakan, pengaruh Islam dirasakan di Eropa Barat terutama melalui Spanyol, dan pada tingkat yang lebih kecil melalui Sisilia. 

Kesenjangan di antara umat Islam dan Eropa pada masa-masa keemasan Islam sangat jelas sekali. Jalan-jalannya mulus, lorong-lorong kota Bagdad, Damaskus, Cordoba dan kota-kota lainnya diterangi beribu lampu di malam hari, sedang jalan-jalan di Eropa masih becek dan gelap. Penguasa-penguasa Islam sangat mencintai Ilmu, istana-istana kekhalifahan dipenuhi buku-buku dan ilmuwan-ilmuwan, sedangkan di Eropa, geraja masih disibukkan dengan pembunuhan dan pembakaran ilmuwan dan ahli sihir yang dianggap bertentangan dengan ajaran gereja. 

Islam mampu membangun peradaban yang mengagumkan dunia. Baik itu dari segi arsitektur, teknologi, kudayaan, ilmu pengetahuan, tata bahasa, norma-norma sosial dan banyak lagi. Kalau boleh memijam istilah Maria Rosa Menocal dalam bukunya yang berjudul Sepotong Surga di Andalusia, ungkapan “The ornament of the world”, secara harfiah bisa didefinisikan sebagai “Perhiasan dunia”, adalah gambaran ketinggian peradaban Islam. Karena itulah gelar yang diberikan kepada Cordoba ibu kota Andalusia, sebagai ungkapan kagum seorang biarawati sekaligus penulis berkebangsaan Saxon pada abad ke-10. Dan yang terpenting di dalam essai ini adalah pemikir-pemikir Islam yang telah menyumbangkan keunggulan-keunggulan karya mereka sehingga memposisikan umat Islam pada masa itu benar-benar menjadi umat terbaik di dunia. Tidak hanya sekadar itu, pemikir-pemikir Islam mampu memberikan kontribusi yang masih signifikan sampai peradaban hari ini. Terlepas dari apakah pada saat ini Islam telah menjadi umat yang terbelakang atau umat yang mulai kembali berkembang untuk membangun peradabannya, namun Islam baik sebagai agama atau sebagai the way of life, tetap dianggap sebagai sebuah konsep yang unggul. Ini dibuktikan dengan ungkapan Paul alvarus, seorang tokoh Kristen yang vokal dan dihormati, yang hidup di Cordova pada pertengahan abad ke-9 mengungkapkan keresahan suara hatinya: 

“Orang-orang Kristen sangat senang membaca berbagai syair dan roman Arab. Mereka mempelajari para teolog dan filosof Arab, bukan untuk menolak pemikiranya, melainkan untuk mengetahui tata bahasa Arab yang benar dan indah. Adakah rakyat jelata yang masih mau membaca tafsir-tafsir kitab suci berbahasa Latin atau mempelajari Injil, kisah-kisah Nabi dan Rasul? Celaka! Semua pemuda Kristen yang berbakat membaca dan mempelajari buku-buku Arab dengan antusias. Mereka menghimpun perpustakaan-perpustakaan besar dengan biaya yang tak sedikit. Mereka sepelekan buku-buku Kristen dan menganggapnya tak layak dipelajari. Pemuda-pemuda Kristen telah lupa terhadap bahasa sendiri. Untuk setiap satu orang yang bisa berkorespondensi dalam bahasa Latin kepada temannya, terdapat seribu orang yang bisa menulis, menuangkan ide dan pemikiran mereka dengan bahasa Arab yang indah, dan bahkan menulis syair-syair Arab lebih baik dibanding orang-orang Arab sendiri."

Ini adalah sebuah ancaman yang sangat besar bagi bangsa Eropa dan agama Kristen yang menjadi jirannya pada masa itu, baik sebagai kelompok manusia budaya maupun umat beragama. Jadi untuk menjelaskan tersebarnya Islam, Kristen telah mengembangkan stigma yang mengatakan sukses Islam adalah hasil dari kekerasan, gejolak nafsu dan kebohongan kaum Muslim. Tentu saja ini adalah pernyataan yang “menghibur” pada masa ketika imperialisme perdagangan Eropa mulai tumbuh. Dengan mengembangkan teori tersebut ‘penderitaan orang kulit putih’ tidak hanya menjadi lebih ringan untuk dipikul, tapi penaklukan militer juga membentuk moral imperatif saat orang-orang buas yang tidak mengerti akan keagungan nilai sains. 

Ungkapan di atas menggambarkan keunggulan Islam yang membuat ciut nyali dunia dengan kreativitas umatnya dalam membangun peradaban. Kendatipun dalam catatan sejarah, pada abad 13 sampai abad 18 peradaban Islam telah mengalami kemunduran, tetapi Islam masih saja membuat kecut pihak yang menganggapnya sebagai lawan. Karena pada abad-abad sebelumnya, para pemikir Islam telah mewariskan karya-karya agung yang tidak hanya digandrungi oleh umat Islam, tapi oleh umat-umat yang memusuhi Islam. Tidak dinapikan keunggulan itu terlahir dengan ajaran Islam yang sangat mendorong umatnya mendalami ilmu pengetahuan. Islam juga memandang tinggi kedudukan akal. Dalam waktu yang sama Islam juga menekankan tingginya nilai etika, akhlak dan norma-norma sosial. Tapi yang paling utama dasar ajaran Islam adalah tauhid. 

Bila kita kembali ke sejarah, pasti kita akan menemukan manusia-manusia unggul, pemikir-pemikir yang berjasa kepada kemajuan Islam dan dunia pada saat ini. Sebut saja misalnya Al-kindi (801-865), Al-Farabi (870-950), Ibnu Sina (980-1037), dan Ibn Rusyd (1126-1198), masih disebut sebagai tokoh-tokoh ideal yang dicanangkan sebagai model fase kemajuan berfikir dan kebangkitan dalam dunia Muslim. Para filosof Muslim sangat mengedepankan logika dan cara berfikir yang benar, tanpa ada maksud untuk mngesampingkan wahyu, tetapi penggunaan rasio adalah juga karunia Allah yang amat berharga. Di tangan para ilmuwan inilah terlahir karya-karya yang masih menjadi rujukan berabad-abad dan sebagian teks aslinya masih bisa kita temukan di perpustakaan-perpustakan Eropa. 

Pemikir Islam, Ibnu Rusyd (1120-1198 M) misalnya, di Barat dikenal dengan nama Averos. Ia melepaskan belenggu taklid dan menganjurkan kebebasan berfikir. Ia mengulas pemikiran Aristoteles dengan cara yang memikat minat semua orang yang befikir bebas. Ia mengedepankan sunatullah menurut pengertian Islam terhadap patheisme dan anthrophomorphisme Kristen. Demikian besar pengaruhnya di Eropa, sehingga di Eropa timbul gerakan Averoisme (Ibn Rusyd-isme) yang menuntut kebebasan berfikir. Bermula dari pemikiran dan gerakan ini di Eropa kemudian lahir reformasi pada abad ke-16 M dan rasionalisme pada abad ke 17 M. Berawalnya pengaruh penyerapan peradaban Islam ke Eropa dimulai dari pemuda-pemuda Kristen belajar ke Universitas-Universitas Islam. Kemudian di Paris didirikan Universitas yang sama dengan Negara Islam pada tahun 1231 M, tiga puluh tahun setelah wafatnya Ibnu Rusyd. 
Dibidang teologi, dunia Islam diramaikan oleh ahli-ahli ilmu kalam yang berasal dari berbagai aliran. Seperti aliran Mu’tazilah yang sangat menghargai ketinggian akal. Bagi kaum yang berfaham Mu’tazilah, dengan potensi akal yang dimiliki manusia, manusia dapat mengkaji kebenaran sampai ketahap mampu mengetahui adanya Tuhan, baik buruk sebuah perbuatan dan banyak lagi persoalan teologi yang dipaparkannya dengan pola yang sangat menarik. Pada dasarnya pemikiran Mu’tazilah didominasi teologi rasional. 

Paham yang bersebrangan denga Mu’tazilah adalah Asy’ariyah. Teologi Asy’ariyah yang lebih berpandangan teologi tradisional beranggapan kemampuan akal hanya mampu ke tahap mengakui adanya Tuhan. Sedangkan selebihnya tidak mampu diakses oleh akal. Kendati demikian, dari segi diaelektikanya, kaum Asy’ariyah tetap mengedepankan argumen secara rasional untuk mengenal Allah dan ini tetap dianggap merupakan kelanjutan metode kalam Mu’tazilah. 

Selain ketinggian akal dan keutamaan argumen rasio seorang muslim juga wajib memiliki ketinggian Akhlak. Keutamaan ajaran tasawuf adalah menuju akhlak yang terpuji dan meninggalkan serta menjauhi akhlak yang tercela. Mengutamakan gerakan hati nurani atau intuisi disamping akal untuk melihat kebenaran. Namun, ketika ketiga unsur ini dikolaborasikan, maka, akal yang di bimbing oleh wahyu dan dibarengi ketinggian akhlak akan melahirkan pribadi-pribadi unggul yang sangat diperlukan untuk membangun umat. Inilah keunggulan peradaban Islam yang tidak dimiliki oleh peradaban-peradaban lainnya. Kendatipun Islam dihancurkan oleh orang-orang yang buas dan rakus seperti bangsa Mughal, namun ketika mereka berinteraksi dan mendalami peradaban Islam, mereka terus jatuh cinta padanya dan membangun kembali peradaban Islam. 

Begitu juga bangsa-bangsa Eropa yang dengan keji dan brutal mengusir Islam dari Granada Spanyol, namun nilai-nilai Islam sangat mereka cintai. Sebagaiman Watt mencatatkan “ dan nampaknya dapat dibenarkan kalau disebutkan bahwa agenda-agenda acara atau aturan-aturan waktu yang harus kita ikuti dalam acara-acara formal mungkin berasal dari Ziryab ini”. Selanjutnya Watt menyatakan, ketika orang-orang Romawi memasukkan wilayah Yunani ke dalam wilayah kekuasaan mereka, akibatnya adalah seperti yang dikatakan seorang penyair Latin “Yunani yang telah tertaklukkan membuat takluk penakluknya yang besar.” Namun penaklukkan orang-orang Arab tidak membawa mereka “tertaklukkan” sebagaimana terjadi pada penakluk Romawi. Mereka bahkan berhasil mendesakkan bahasa mereka, bahkan apa yang menjadi sudut pandang mereka, kepada hampir seluruh masyarakat yang ditundukkan di bawah kekuasaanya. 

Islam adalah agama yang benar, maka dari itu Islam tidak akan melewatkan segala aspek yang diperlukan manusia. Filsafat sangat diperlukan manusia untuk mencapai kesuksesan di dunia. Teologi adalah keperluan manusia sendiri kepada Tuhan yang menciptakannya supaya manusia selalu ingat pada setiap kesuksesan pikirannya. Tasawuf diperlukan filsafat dan teologi sebagai penyeimbang antara dunia dan Tuhannya. Tasawuf juga merupakan pembimbing akhlak manusia supaya benar-benar kelihatan manusianya dan untuk manusia mencapai kebahagiaan serta kesuksesan di dunia maupun di akhirat. Manusia memerlukan akal, dan akal perlukan Tuhan. Di antara manusia, akal, dan Tuhan diperlukan hati atau intuisi yang dicerminkan oleh etika dan akhlak yang mulia supaya semua unsur tersebut tetap seimbang di dalam manusia.

Islam sebagai agama yang membawa rahmat untuk semesta alam, lahir di kota Makkah dan tumbuh berkembang di Madinah, dan selanjutnya menyebar ke setiap sudut jazirah Arab serta akhirnya menyebar ke seantero dunia. Kehadiran Islam ini telah dapat mewujudkan suatu peradaban yang terkemuka dan kaffah, peradaban ini dikenal dengan “Peradaban Islam”. Peradaban Islam mencakup seluruh aspek kebutuhan hidup manusia, bahkan berimbas kepada semua makhluk ciptaan Tuhan. Al-Qur’an dijadikan sebagai sumber pokok pembentukan peradaban ini.
Peradaban yang berlaku umum, tentu saja peradaban yang mendahulukan kepentingan bersama, dan tidak bersifat politis. Manakala peradaban dikaitkan dengan tujuan politik tertentu, maka akan tercipta sebuah “prasangka-prasangka” negatif dalam proses dialektika peradaban. Disinilah pentingnya menerapkan teori fungsionalisme. Menurut para fungsionalis, masyarakat adalah statis atau masyarakat berada dalam keadaan berubah secara seimbang. Fungsionalis menekankan pada keteraturan masyarakat. Fungsionalis menyatakan bahwa setiap elemen masyarakat berperan dalam menjaga stabilitas. Fungsionalis cenderung melihat masyarakat secara informal diikat oleh norma, nilai, dan moral. Fungsionalis memusatkan perhatian kepada kohesi yang diciptakan oleh nilai bersama masyarakat. Dengan demikian teori konflik adalah kebalikan dari teori fungsional. Sementara itu dialog peradaban ini, dalam konteks agama, Ninian Smart berpendapat kita memerlukan suatu world view bagi dunia yang juga tidak menjadikan seluruh agama itu sama, tetapi menekankan nilai-nilai komplementer agama dalam membantu membangun peradaban global yang sesungguhnya kita perlu melihat agama-agama dalam model konteks yang sama, sebagaimana demokrasi merupakan cara menghilangkan kekerasan dalam memilih kebijakan, demikian juga demokrasi spiritual seharusnya dapat menghilangkan kekerasan inter-religius dan inter-ideologis. Setidaknya perang dingin (dengan sisi religious yang dimiliki) berakhir, dan kita membutuhkan suatu pandangan dunia yang serba mencakup bagi seluruh umat manusia.

Pengaruh Teknologi Terhadap Sosial Budaya terbagi atas 2 yaitu Teknologi Komunikasi, Nilai dan Moral. Teknologi komunikasi adalah peralatan perangkat keras (hardware) dalam sebuah struktur organisasi yang mengandung nilai-nilai sosial, yang memungkinkan setiap individu mengumpulkan, memproses dan saling tukar-menukar dengan individu-individu lainnya.

Nilai adalah sesuatu yang berharga, bermutu, menunjukan kualitas dan berarti atau berguna bagi manusia. Menilai berarti menimbang suatu kegiatan manusia untuk membandingkan sesuatu dengan sesuatu yang lain kemudian untuk selanjutnya diambil keputusan mana yang lebih baik. Nilai bersumber dari budi pekerti yang berfungsi mendorong dan mengarahkan sikap dan perilaku manusia. Nilai sebagai suatu sistem merupakan salah satu wujud kebudayaan disamping sistem sosial dan karya. Nilai sosial merupakan landasan bagi masyarakat untuk merumuskan apa yang benar dan penting, memiliki ciri-ciri tersendiri dan berperan penting untuk mendorong dan mengarahkan individu agar berbuat sesuai norma yang berlaku.

Moral berasal dari kata mos (mores) yang sinonim dengan kesusilaan, tabiat atau kelakuan. Moral adalah ajaran tentang hal baik dan buruk, yang menyangkut tingkah laku dan perbuatan manusia. Seorang pribadi yang taat pada aturan-aturan, kaidah-kaidah dan norma yang berlaku dalam masyarakat, dianggap sesuai dan bertindak benar secara moral.

Budaya saat ini sudah mulai kendor dan bahkan sudah mulai hilang dalam kehidupan masyarakat sebagai contohnya permainan tradisional yang kini sudah mulai hilang, permainan tradisional yang seharusnya dimainkan oleh anak-anak untuk mengisi waktu luangnya, sehingga masa kecilnya dipenuhi dengan warna-warninya kehidupan. Yang juga dapat dijadikan sebagai pengalaman bagi mereka. Perlahan seakan hilang dari masyarakat. Sebagai contoh orang tua menafkahi anak mereka dengan berbagai macam teknologi yang canggih, seperti permainan game video, dan bahkan anak yang seharusnya belum waktunya mengenyam teknologi sudah dibekali dengan gadget yang membuat mereka merasa malas bermain di luar dan dekat dengan alam. 

||Toddo Lentu Batujala||
Malang, 28 Desember 2024

Biraeng

Memesona senyummu
Mewarnai parasmu
Menghiasi relung sukmaku
Mendiamkan denyut nadiku

Matamu mencuri pandanganku
Membelenggu hatiku
Tatapanmu menghantam naluriku
Detak jantungku bingung tak menentu

Malam nan sunyi ini
Seolah aku dalam mimpiku
Hanyut dalam bayangmu
Engkau bagai Bunga Biraeng
Dambaan dan harapan semua orang

Oh Biraengku ...
Jika engkau rahmat
Kan kubuka hatiku 
Biarkan jiwaku menyatu
Bergerak mengalir menuju keabadian
Gemakan firman Tuhan
Kun fayakun

||Toddo Lentu Batujala
Bantaeng, 25 Maret 2024

Inikah Kemerdekaan

Hingga lampu-lampu itu mulai padam 
Aku masih mempertaruhkan hidup demi lambung kian perih

Pada rembulan menyapa gelap malam
Pada dekapan asap karbon monoksida
Aku melangkah berselimut kabut malam 
Dengan siulan terdengar tak nyaring
Gemetar tubuhku dan bertanya dalam hati
Sungguh, inikah kemerdekaan di negeri ini?

Nampak jelas grafiti pada tembok lorong-lorong sempit nan kumuh
"kemerdakaan hanya gincu"

Terbayang seorang pemuda kehilangan figur, terduduk sungkur 
Wajah petani kusam, lesuh penuh harap panen besar
Para pedagang di teras toko terbujur tubuh kurus dengan mimik mengharap iba

Sementara itu ...
Pada gedung instansi disibukkan dengan data dan bukti 
Pada media massa tersebar proses penangakapan binatang berjalan tegak
Manusia tanpa akal, tanpa hati 

Heiii ... 
Engkau dipilih bukan dilotre
Enkau janji membela pertiwi
Engkau janji wujudkan kemerdekaan hakiki

Inikah kemerdekaan yang engkau maksud? Haaahhhh...!!!

Merdeka dari tikaman kerakusan dan keserakahan bertebaran
Merdeka dari kesuburan gratifikasi, korupsi, dan kolusi
Ataukah semua telah mati
Mati dari kepekaan dan kepedulian
Mati dari kemurnian nurani dan ketulusan hati

||Toddo Lentu Batujala||
Bantaeng, 31 Maret 2024

Tekad

Pada wajah siapa 
Aku tak melihat wajahmu
Pada dunia mana 
Aku tak mengingat namamu
Tiada yang mendengarku kecuali rinduku
Tiada yang menjawabku selain naluriku

Tak ada yang lebih sepi 
Dari bayangmu
Tak ada yang lebih pilu 
Dari mengingatmu
Tak ada yang lebih sakit 
Dari memanggil namamu

Kabut berderu menyelimuti dahan dan ranting
Di belantara ini jejakku selalu bersamamu
Kemana aku kan pulang?
Badai fajar di bahuku
Gelap malam di depanku
Adakah rembulan siaga menyinari langkahku?

Ku terus berjalan dan melangkah
Kuharap kau tahu
Aku kan memandangimu
Saat berjalan di batas dua dunia
Menggapai senja, membangunkan fajar
Ini bukan nekat, tapi sebuah tekad

||Toddo Lentu Batujala||
Bantaeng, 25 Maret 2024

Keterasingan

Keterasinganku saat ini adalah hasil dari sebuah pilihan atas dasar idealisme

Keterasinganku saat ini adalah hasil dari sebuah perhitungan yang tepat dan tekad untuk melangkah

Keterasinganku saat ini adalah akibat dari perlawanan hidup di tengah masyarakat yang dibangun atas kezaliman dan penindasan

Keterasinganku saat ini adalah perlawanan menghadapi kebodohan dan apatisme

Keterasinganku saat ini adalah perlawanan menghadapi pemasungan pandangan yang benar

Keterasinganku saat ini adalah perlawanan menghadapai dekadensi dan terkungkung oleh kebingungan

Keterasinganku saat ini adalah perlawanan menghadapi seorang pemikir yang menjdi alat kezaliman

Keterasinganku saat ini adalah anugerah dari Tuhanku

Toddo Lentu Batujala, 31 Des 2019

Bukan Pemuda Sempurna

Aku bukan pemuda sempurna
Namun pemuda mesti diberi penerangan
Penerangan yang bukan menjerumuskan
Pekerjaanmu hanya mempropaganda pemuda 
Aku tak ingin dan tak butuh kedudukanmu
Aku tak ingin jadi ekor dan beomu

Aku hanya menitip pesan
Bahwa di luar kantormu itu
Masih banyak pemuda yang berdarah Singa
100% lebih bersih dari darahmu dan gerombolanmu

Mereka sekarang gelisah melihat penindasanmu
Dan sementara ini menangis
Melihat kelakuan gerombolanmu
Yang melontekan diri
Menjadi alat kezaliman

Hingga di kemudian hari
Mereka para pemuda
Meneriakkan kebenaran 
Yang akan disaksikan oleh para pengkhianat

Aku bukan pemuda sempurna
Aku tinggal di gubuk
Hanya bisa nongkrong di pinggir jalan
Tak punya kuasa 

||Toddo Lentu Batujala| Bantaeng, 12 November 2018||

Surat Cinta dari Hutan

Yth. Khalifah di Bumi
Kumulai dengan sebuah tanya
Coba tanya nalurimu yang paling dalam
Sebelum engkau benar-benar 
Menjadi sesuatu yang dikhawatirkan para Malaikat

Masihkah engkau menikmati rindangnya hutan
Bila aku selalu menjadi sasaran eksploitasi
Dari para kaum serakah yang hatinya penuh amarah?

Masihkah engkau merasakan sejuknya pemandangan gunung dengan pohon menjulang tinggi 
Bila aku digunduli dengan mesin-mesin kapitalis yang tahu hanya untung?

Tanahku dahulu 
Tanah yang subur, kaya sumber mata air
Hutannya adalah rumah bagi satwa endemik

Kini...
Tanah itu subur akan air mata
Akar pohon yang memeluk tanah
Lengannya dipotong lalu jadi arang
Musim hujan, banjir dan tanah longsor bertamu
Musim panas, kekeringan melanda menyengat
Bagaimana bisa engkau tidak kusalahkan?

Heiii...tangan-tangan keserakahan
Engkau telah merebut segalanya dari anak cucumu
Mata air suci itu
Pagi nan indah itu
Udara segar itu
Kau juga merebut kesejukan itu
Bagaimana bisa engkau tidak kusalahkan?

Kini tubuhku semakin rentah
Dengan penderitaan membelenggu
Nadiku semakin melemah
Beberapa detak jantung lagi aku mati

Kukatakan pada kalian
Aku mencintaimu
Sebab, aku tercipta untukmu
Yang telah dititipkan sayap Tuhan
Untuk terbang mengepak di atas tubuhku

Aku memohon kepada kalian
Yang telah direstui langit 
Menjadi sebagai Khalifah
Hentikan bergerak membulalak
Hiduplah tumbuh bahagia
Bersama Flora dan Fauna

Abd. Rahman ||Malang, 17 Januari 2024||

Renjana

Meski langit tak memberi izin
Mencintaimu pilihanku
Walau itu kesalahanku
Biarlah diriku tenggelam dalam rasa ini

Jadi angin, aku tak melihatmu
Jadi air, engkau tak bisa kagenggam
Kutau aku kalah karena salah
Ku hanya ingin semesta mencatat cintaku

Kelak rohku beranjak
Kuingin kau tanam mawar di halaman rumahmu
Kelak kau ingat tentangku
Petiklah bunganya, simpan durinya untukku

Tiap daun yang gugur itu 
Adalah wujud rinduku tentangmu
Tiap air hujan turun basahi daun dan bunganya
Adalah wujud isakku menyapa harapan 

||Toddo Lentu Batujala, 8 April 2024||

Senja

Di ufuk barat telah membentang
Cahaya keemasan di cakrawala
Mentari siap terbenam, tenggelam
Mengganti keindahan dari Sang Pencipta

Masih dalam renungan malam
Saat bulan tersenyum manis menyapa naluri
Kala bintang memeluk hangat jiwa
Bahagiakan rongga hati tersinari

Cahaya rembulan menembus 
Di sudut langit berawan tipis berarak ikuti angin
Bergelombang mengombak-ombak
Di sana terhampar serpihan surga

Sungguh... Senja...
Mengajarkan bahwa keindahan 
Tak harus selalu didekati
Tak harus selalu dimiliki

||Toddo Lentu Bantujala, 9 April 2024||

Salam Ramadan

Jika lehermu menahan dahaga 
Semesta akan sediakan minuman
Ketika perutmu kosong dari makanan
Langit akan menyuguhkan hidangan 

Di balik pahitnya lambung 
Tersembunyi penawar rasa manis
Di balik rasa terbakarnya lehermu karena puasa
Tersembunyi penyejuk yang akan menghembuskan dari dadamu

Sebuah musim telah berakhir
Bulan ampunan dan kasih sayang
Bulan pencerahan dan penyucian
Penuh cinta dan kedamaian

Akhirnya...
Kemenangan akan tercapai
Derajat dan fitrahmu akan melesat naik 
Beribu derajat dalam langkah dan citamu

Dunia kita hari ini
Bersinar lebih cerah
Suci lahir dan batin
Demikian perhiasan yang berharga dari Robmu

Ucapkan salam perpisahan
Sampai jumpa ... Ramadan ...

||Toddo Lentu Batujala, 10 April 2024||

Damai Pagi

Sang fajar telah beranjak bangun
Bersiap menjemput mesra kesejukan pagi
Meneguk kegelapan malam
Menyempurnakan hangatnya Sang Surya

Kubuka mata tanpa beban
Kabut tebal menyelimuti bumi
Embun masih memeluk daun dan ranting
Indahnya langit biru terbentang bagai lautan

Pada deru air
Burung  berceloteh tentang cinta
Pada iringan sang bayu sepoi
Burung camar menari riang dalam rindu

Akhirnya aku berharap ..
Sang surya yang perkasa
Memancar benderang dari ufuk timur
Mengantar secercah harapan 
Hangatkan jiwa
Damaikan hati
Tenteram bersamamu

||Toddo Lentu Batujala, 11 April 2024||