Selasa, 23 April 2024

Sebelum Waktuku

Sebelum kegelapan meneguk senja
Dan angin menggugurkan dedaunan
Izinkan aku mengabadikanmu
Dalam bait-bait sajak ini

Sebelum embun pagi mengering  
Dan mentari terbit dari peraduannya
Kau akan tetap tersiasati 
Pada larik sajak ini

Suatu hari nanti
Impianku tak lagi kau kenang
Engkau tetap permataku
Yang tak akan lekang oleh waktu

Kelak sampai waktuku
Suaraku tak lagi kau dengar
Maka carilah daku 
Di sela-sela huruf sajak ini

||Toddo Lentu Batujala|| Bantaeng, 24 April 2024

Maafkan Aku

Kekasihku
Dari ketulusan hatimu 
Aku melihat cahaya surga
Pada kehidupan selanjutnya

Ungkapan hatimu yang tulus 
Dari mulutmu tentang impianmu
Tentang aku
Setiap detiknya akan selalu kuingat

Saat kau kembali 
Tak hentinya aku menunggu kabarmu
Hingga menjadi rutinitas tak membosankan
Bertanya tentangmu dan memberi kabar untukmu

Kau langkah kaki yang kuiringi doa dan harap
Sungguh remuk jantungku
Melihat air mata jatuh di pipimu
Mendengar sedu tangismu

Aku berani membenamkan senja di matamu
Tapi aku mohon, hiduplah bersamaku
Akan kujilat sebutir debu di telapak kakimu
Maafkan aku

||Toddo Lentu Batujala|| Bantaeng, 23 April 2024

Minggu, 21 April 2024

Sia-Sia

Aku tak menyalahkan mereka
Mungkin mereka pikir aku ini pemilik jasad yang bermalas-malasan
Siapa yang menyangka aku sedang sakit dan tak terpedulikan

Aku tak menyalahkan mereka
Mungkin mereka pikir aku ini pemilik pikiran yang bebal
Siapa yang menyangka aku sedang berjalan dan bertemu topeng-topeng kemunafikan

Isi hati tak ada yang tahu
Begitu pula isi perut
Semuanya tersembunyi
Hanya bisa dilihat dengan mata hati

Keburukan dan kebajikan bisa diputuskan
Nasib baik dan nasib buruk mesti direncanakan dari awal

Sabbiku rewata
Saya sedang merencanakan nasib saya
Tidak tahu apa akan jadi baik atau buruk
Saya hanya mempersiapkan diri untuk menerima-Mu di rumah sejatiku
Datanglah kapan saja

Sia-sia
Semua akan berakhir dalam sebuah kematian
Tanpa kawan
Mati dalam kesendirian

||Toddo Lentu Batujala|| 21 April 2024

Selasa, 16 April 2024

Tak Ada Pusara

Sang Surya sekarang sudah terbenam
Dan senja berkata
Terberkatilah rohmu
Serta jiwamu yang telah bersemayam pada alam lain

Dalam hening, rohmu berkata
Apakah aku sedang terbangun dari tidurku?
Bukankah aku baru saja bermimpi?
Aku ingin kau dengar dan menjawab tanyaku
Dan Tuhanmu menjawab dengan mengutus malaikatnya

Engkau tidak tergesa-gesa dibanding badai hujan
Namun engkau tetap saja akan pergi
Sambil berbicara penuh kasih
Engkau tetap akan melakukan perjalanan
Bahkan saat waktu terhenti dan bumi sedang tidur

Engkau pergi bersama angin
Tetapi tidak dalam kehampaan
Dengan hati yang lebih lapang
Dan bibir yang berserah pada Tuhan
Aku ingin berbicara
Tak ada pusara di sini
Gunung dan dataran ini adalah tempat lahir

Engkau tetap bermurah hati
Dari segala ketidakpatuhan
Engkau telah memberi dahaga 
Tentang kehidupan yang selalu menjadi guru terbaik
Tentu saja tidak ada anugerah yang lebih besar
Selain mengubah kehidupan menjadi mata air

Seperti keheningan dan kegelapan membangunkan fajar
Bagai kebisingan dan kesibukan meneguk senja
Sebentar lagi kerinduan akan mengumpulkan bui
Lalu menyeretnya ke pantai

||Toddo Lentu Batujala||
Puncak Sinoa, 16 April 2024

Sabtu, 13 April 2024

Aru Butta Toa dan Terjemahan Bahasa Indonesia

Tabe...
Tabe Karaeng...
Tabe... 
Kipammopporang nama (Maafkan aku)
Ri dallekang malabbirikta (di haribaanmu yang mulia)
Ri empoang masungguta (di tahtamu yang agung)
Ri sakri karatuangta (di sisi kebesaranmu)

Sabbiku rewata (Saksiku Tuhan kita)
Anne badikku akdallek naik (Ini Badikku menghadap ke atas)
Anjari sakbi ri Karaeng (menjadi saksi pada Tuhan)
Ampajjaria lino lollong bonena (yang menciptakan bumi dan isinya)
//
Anne selekku rua matanna (ini kerisku bermata dua)
Sekre akdallek assuluk (satu menghadap ke luar)
Sekre akdallek antamak (satu menghadap ke dalam)
Cappakna akdallek naik (dengan ujung menghadap ke atas)
Ri Karaeng ampajjaria lino lollong bonena (kepada Tuhan yang menciptakan bumi dan isinya)

Takkang bassina Sinoa (Tongkat besi dari Sinoa)
Bannang kebokna Lembang (Benang putih dari Lembang)
Sabbe tamamminrana, tonasa tamatimpungna (Corak tak akan pudar, inti kayu tak akan lapuk)
Tana Loe Gantarangkeke (nama daerah)

Inakkemi anne karaeng (akulah karaeng) 
Lambara tatassallanna Butta Toa (satria dari tanah Butta Toa) 
Nakareppekangi sallang karaeng (akan memecahkan kelak) 
Pangngulu ri barugayya (hulu keris di arena) 
Nakatepokangi sallang karaeng (akan mematahkan kelak) 
Pasorang attangnga parang (gagang tombak di tengah gelanggang) 

Inai-naimo sallang karaeng (barang siapa jua) 
Tamappatojengi tojenga (yang 'tak membenarkan kebenaran) 
Tamappiadaki adaka (yang menantang adat budaya) 
Kusalagai siri'na (kuhancurkan tempatnya berpijak) 
Kuisara parallakkenna (kululuhkan ruang geraknya) 
Berangja kunipatebba (aku ibarat parang yang dihantamkan) 
Pangkulu kunisoeyang (kapak yang diayungkan)

Punna gitte ri dallekang Karaeng (Jika engkau di depan Karaeng)
Sakri tabbalakna Butta Toa (Samping banyaknya Butta Toa)
Mammiknawang ri bokota (mengikutimu dari belakang)
Anraik-raikki karaengku anraik tonga (anda ke utara karaengku, saya ikut jua)
Kalauk-kalaukki karaengku kalauk tonga (anda ke selatan karaengku, saya ikut jua)
Punna gitte pokok kayu Karaeng (engkau ibarat pohon kayu Karaeng)
Inakke ngaseng tumallaklang (Kami semua berteduh)
Ammirikko anging (berhembuslah angin)
namarunang lekok kayu (kurela gugur bersamamu)

Punna gitte jekne Karaeng (engkau ibarat air Karaeng)
Inakke batang kayu (aku ibarat batang kayu)
Assolongko jekne (mengalirlah air)
Namammanyuk batang kayu (kurela hanyut bersamamu)

Punna gitte jarung Karaeng (engkau ibarat jarum Karaeng)
Inakke bannang panjaik (aku ibarat benang jahit)
Antamakko jarung (menembuslah jarum)
Namminawang bannang panjaik (aku akan ikut bekas jejakmu)

Manjjokjok mamaki mae Karaeng (menunjuklah Karaeng)
Na inakke mappabbotti ( dan aku akan buktikan)
Mannyabbuk mamaki mae Karaeng (bertitahlah Karareng)
Na inakke mappajjari (dan aku akan berbuat)
Makkana mamaki mae Karaeng (bersabdalah Karaeng)
Na inakke mappakruppa (dan aku akan berbakti)

Punna sallang takamayya (bila nanti janji tidak kutepati)
Aruku ri dallekangta Karaeng (sebagaimana ikrarku di hadapanmu Karaeng)
Pangkai jerakku (pasak belah pusaraku)
Tinrak bate onjokku (coret jejakku dalam sejarah)
Pinra arengku (ganti namaku)
Pauang anak jariku (sampaikan pada anak cucuku)
pinruang tuju pinakkakku (dua kali tujuh turunan)

Tumakkanayya Karaeng (apabila hanya mampu berikrar)
Na tana ruppai kanangna (Namun tidak mampu menepati Ikrarnya)
Ri lino niak boyangna (di dunia bisa dicari)
Niak pisi-pisiangna (bisa diatur-atur)
Ri anjapi sallang (kelak di akhirat)
Sannging tau sassaklalang mami (Semua hanya orang dalam penyeselan)

Sikammaji anne aruku ri dallekangta Karaeng (demikian ikrarku di hadapanmu Karaeng)
Dasi na dasi natarima Allah Ta'ala (semoga Allah Ta'ala menerimanya)
Naki para salamak (dan kita masing-masing selamat)
Aamiin ...

Kamis, 11 April 2024

Islam dan Mazhab Barat

Kapitalisme akan membawa bencana karena terlalu mementingkan kepentingan perorangan warga masyarakat, memasung hak-hak kolektifitas masyarakat.

Komunisme justru akan menghilangkan hak-hak sah dari individu yang menjadi warga masyarakat, memasung hak-hak individu masyarakat.

Islam tidak berada pada kedua mazhab kapitalisme dan komunisme, Islam meletakkan pandangan sebagai jalan tengah antara kapitalisme dan komunisme. Islam memberikan pemecahan dengan jalan menyeimbangkan antara “hak-hak masyarakat” dan “hak-hak individu”.

Derajat Keterpisahan Manusia dari Dirinya

Manusia adalah makhluk yang punya kata hati bersifat moral-bawaan
Kata hati yang bersifat moral ini tumbuh dari jati diri manusia 
Dan itulah yang dibutuhkan oleh watak dasar manusia

Manusia adalah makhluk asli
Memiliki kemandirian di antara makhluk lainnya
Manusia adalah makhluk yang memiliki sifat Ilahiah
Yaitu kemerdekaan dan kebebasan memilih

Manusia adalah makhluk yang sadar tentang dirinya sendiri
Manusia adalah makhluk kreatif
Manusia adalah makhluk yang misterius
Manusia adalah makhluk yang punya cita-cita
Manusia adalah makhluk yang berakal Menjadi pembeda di antara makhluk-makhluk lainnya

Jejak Hati antara Pasar Anjayya dan Lembah Karisma

Ini bukan tentang perihal hobi tapi ini tentang cinta dan hingga kini aku tidak mampu menjelaskan kecintaan ini sebagaimana cinta hingga kini belum mampu didefinisikan. Tapi aku ingin menyampaikan bahwa aku sedang rindu, mungkin saja rindu adalah bagian dari arti sebuah cinta.

Yaahh, aku merindukan perjalanan dan kebersamaan dalam pencapaian harapan dan tujuan. Dalam lingkup pegiat alam bebas, ekspedisi alam, dan pendakian gunung. Segala harapan itu adalah mencapai puncak gunung dan selamat sampai kembali ke rumah, kemudian tujuan adalah untuk mengukur kemampuan diri serta belajar merendahkan keangkuhan.

Kerinduan ini mengingatkan aku tentang tempat-tempat yang sering dilalui dan disinggahi untuk melepas penat dan lelah para pendaki gunung. Yaahh, PASAR ANJAYYA & LEMBAH KARISMA. 

Sekitar 30 menit berjalan dari puncak gunung Lompobattang, pandangan kami arahkan ke sebelah kanan dengan radius pandang 1700 meter ke bawah, kami dapat melihat tanah lapang yang luas dan dikelilingi pepohonan yang rindang… aneh tapi nyata yahhh benar saja itulah PASAR ANJAYYA, dari bahasa setempat Anjayya artinya “orang mati” jadi Pasar Anjayya artinya pasarnya para orang-orang yang telah mati. 

Wow… menurut cerita para pendaki pendahulu kami, cuman sedikit pendaki yang berani masuk ke sana, banyak hal yang di luar logika terjadi, salah satunya pernah ada pendaki yang tidak bisa keluar dari lokasi area Anjayya dua hari dua malam baru dapat keluar dari lokasi tersebut. Ada juga cerita dari senior kami pada saat dia masuk ke dalam area anjayya botol air minum seperti ada yang remuk-remukkan, bahkan katanya kalau hari kamis sore dan malam Jumat orang yang masuk ke sana akan mendengar suara-suara ramai layaknya ketika berada di pasar. itu sedikit cerita yang saya dengar.

Menurut mitos, konon kabarnya dari cerita rakyat setempat Pasar Anjayya merupakan titik pusat aktifitas jin dan mahluk gaib yang sangat kuat dan mempunyai nilai historis mistis yang menjadi cerita turun temurun oleh warga setempat wallahu A'lam! 

Pasar Anjayyya dan Lembah Karisma akan kita lalui jika melakukan pendakian lintas gunung Lompobattang-Bawakaraeng, sebab keduanya berada tepat di antaranya. 

Umumnya Lembah Karisma dijadikan camp para pendaki yang lintas dari Gunung Lompobattang ke Gunung Bawakaraeng. Untuk menuju Lembah Karisma dari puncak Lompobattang kita mengambil jalur kanan, dan sebelum turun ke Lembah Karisma kita terlebih dahulu melewati medan yang sangat Ekstrim dengan melalui beberapa punggungan gunung dengan berjalan miring dan pijakan yang sangat sempit, menuruni jalan yang curam (patahan) dan berbatu serta beberapa jalur yang mudah longsor. Setelah melewati turunan yang curam, kita mulai memasuki hutan yang banyak ditumbuhi pohon rotan dengan duri-durinya yang sangat tajam. Perjalanan menuju Lembah Karisma dapat ditempuh selama 6-7 jam dan mengambil jalur kanan, apabila kita terus kita akan sampai di puncak Ko’bang, menurut cerita warga sekitar di sini terdapat makam Raja Gowa dan di sini juga biasanya dijadikan tempat ritual dan juga sebagai tempat Naik Haji dan Sholat Iduladha bagi warga sekitar. Perjalanan menuju Lembah Karisma dilakukan dengan jalan yang menurun dengan sudut kemiringan ± 850. Setelah melewati penurunan yang sangat terjal kita akan mendapatkan medan yang landai hingga akhirnya tiba di post 15 atau Lembah Karisma.

Di Lembah Karisma terdapat dua sungai kecil dan terdapat pula tempat Camp yang luas. Nama karisma itu sendiri di ambil dari salah satu Perkumpulan Pecinta Alam atau biasanya di singkat dengan KPA, karena merekalah yang pertama kali menemukan lembah ini kemudian mereka memberikan nama Lembah Karisma, di lembah ini terdapat dua aliran sungai kecil. Lembah Karisma berada pada ketinggian 2236 mdpl.

Untuk apa dilahirkan?

Generasi telah menemukan jawaban 
Dari pertanyaannya selama kurang lebih 14 tahun
Dalam dunia pendidikan formal
Namun ketika jawaban itu disandarkan kepada para orag tua 
Hanya jawaban layaknya fiksi yang didapatkan 
Bahkan tidak diapresiasi oleh mereka.

Tak akan ada kedamaian dan ketenangan pada bangsa ini
Semua penyimpangan yang dilakukan kaum borjuis
Tidak dapat diproses secara adil sesuai dengan hukum yang berlaku
Pelaku hanya candaan dan pengujian semata kepada pihak yang berwenang

Suara kaum proletar tak mugkin engkau dengarkan 
Memasung hak-hak rakyat sebagai warga negara ini
Bahkan membelenggu rakyat dalam tirani dan kediktatoran

Wahai para pahlawan bangsa ini akankah engkau mengakui mereka sebagai generasimu? 
Sedang suara pemuda tak lagi didengarkan 
Bahkan mereka para orang tua tak ada lagi yang bisa dipercaya 
Untuk menjadi pengayom dan penjaga kedamaian bangsa ini

Pemuda bicara dibungkam oleh media
Gerakan murni pemuda dihadang aparatur rezim
Layaknya orde baru sedang masa ini katanya reformasi

Wahai para orang tua, untuk apa kami dilahirkan?

Rabu, 10 April 2024

Perubahan Sosial: Arah Gerak Kemajuan Teknologi Terhadap Ummat Dan Bangsa

Loyal Thinking begitu kata Cak Nur jika dia berbicara tentang sebuah kemajuan berpikir mengalami kebuntuan yang memungkinkan sebuah peradaban ada pada titik kritis karena ketidaksadaran individu atau kelompok dalam memaknai sebuah perubahan sosial. Ironi memang ketika kita melihat saat ini banyak yang telah berburuk sangka terhadap sebuah perubahan dan bahkan banyak yang telah secara sporadis membuat gerakan sekularis menantang segala aspek perubahan yang terjadi. Tetapi tidakkah kita sadar bahwa sebagian masyarakat majemuk yang berada pada tatannan sosial yang kompleks harusnya kita lebih dapat toleran terhadap perubahan itu sendiri. Karena saya yakin bahwa proses dialektika sosial akan membawa pada pola kesempurnaan yang beragam di masyarakat. 

Pola kesempurnaan yang saya maksud adalah pola yang terbentuk akibat banyaknya warna yang berevolusi menghasilkan sebuah tatanan kompleks dari sebuah peradaban yang indah dan dinamis. Tanda wujudnya peradaban, menurut Ibnu Khaldun adalah berkembangnya ilmu pengetahuan seperti fisika, kimia, geometri, aritmetik, astronomi, optik, kedokteran bahkan maju mundurnya suatu peradaban tergantung atau berkaitan dengan maju mundurnya ilmu pengetahuan. Tetapi keindahan ini jangan sampai hanya hayalan yang tak bisa kita wujudkan karena adanya loyal thinking yang membuat nalar tak bergerak untuk melihat sebuah perubahan sosial menjadi kesempatan untuk menyempurnakan pola sosial, tapi sebelum kita lebih lanjut membahas mengenai perubahan sosial dan apa yang menjadi aspek penting dari wacana ini mari kita sedikit kembali belajar dari sejarah kebangkitan Eropa yang kita kenal dengan zaman renaisans. Seperti yang kita ketahui bersama bahwa pada zaman itu ada benturan sosial yang sangat luar biasa antara konsep teologi dan konsep rasionalisme yang diwacanakan oleh para kaum pemikir dan seniman pada saat itu. Benturan sosial pada saat itu membuat segala aspek sendi kehidupan menjadi berubah, baik itu sosial budaya dan bahkan agama yang paling mendapatkan dampak dan sorotan oleh para kaum pemikir kritis di zaman itu. Di zaman itu kita dapat melihat beberapa tokoh pemikir dan seniman melakukan protes dengan cara mereka masing-masing. Protes ini diawali dengan ketidakterimaan para kaum pemikir dan seniman pada saat itu dengan kesewenang-wenang para kaum gereja dan kerajaan dan puncaknya saat gereja mengeluarkan surat jaminan masuk surga, yang surat itu harus dibeli dengan harga yang cukup mahal untuk menggarangsikan seseorang untuk masuk surga. Meskipun tidak semua kaum teolog Kristen menyetujui itu tetapi dengan legalitas dan perlindungan yang dimiliki gereja oleh pihak kerajaan sehingga dianggap bahwa ada kerja sama yang dilakukan oleh kaum gereja pada saat itu dengan pihak kerajaan adalah bentuk penindasan yang sangat tidak bisa diterima oleh rakyat yang saat itu menyelami keterpurukan secara ekonomi. Maka hal itulah yang memicu gelombang protes pada kaum gereja dan kerajaan dengan munculnya tokoh seniman yang membuat karya yang sedikit menyimpang dari konsep teologi seperti patung yang dibuat telanjang dan anmoral lainya, hal ini juga terjadi pada kau pemikir yang sudah tak percaya agama lagi, poros pencarian kebenaran mereka menjadi lebih berpandangan bahwa agama hanya alat untuk memperlanggeng kekuasaan untuk menindas rakyat. Maka agama tidak lagi diperlukan dalam membentuk tatanan sosial yang ada di masyarakat.

Peradaban Islam mempunyai keistimewaan berbanding peradaban pendahulunya. Karena peradaban Islam bertahan lebih lama dari peradaban orang-orang Kaldan, Suryani, Persia dan Yunani. Bukanlah hal yang diragukan lagi, panji peradaban yang sekarang berpindah ke Eropa dari zaman renaissanse bersumber dari orang-orang Islam, yang pada masa selanjutnya mengalami perkembangan sampailah kepada zaman kita hari ini, dan mulai kembali lagi kepada orang Islam. Kenyataan ini sesuai dengan apa yang dinukil oleh Nur Kholis Majid pada pendahuluan terjemahan buku W. Montgomery Watt, yang berjudul “Islam dan Peradaban Dunia: Pengaruh Islam Atas Eropa Abad Pertengahan”. Ia manyatakan “perhatikan saja istilah-istilah ilmiah dalam peradaban Barat: sebagian besarnya berasal dari bahasa Arab, seperti zero, summit dan sebagainya. Demikian juga dengan istila-istilah matematika dan astronomi. Dalam acara pengajian Yayasan Wakap Paramadina, ada seorang penatar guru-guru matematika di bidang sains dan Ketua Asosiasi Astronomi Indonesia. Dalam salah satu kesempatan dia mengatakan, bahwa tujuh puluh persen nama bintang di langit berasal dari bahasa Arab".

Ungkapan seperti ini bukan hanya dari pihak orang Islam, namun ia juga diakui oleh orang Barat sendiri. Thatcher dan Chawel secara tegas mengatakan bahwa bangsa Eropa sangat berhutang dengan kedatangan Islam. Banyak ilmu yang dapat ditemukan sehingga dapat diadopsinya seperti ilmu falak, fisiologi dan masih banyak lagi. Kesan serupa juga diungkapkan oleh Sartios, ia mengatakan bahwa bidang-bidang ilmu pengetahuan yang dibawa Islam terutama ilmu dan penerapannya lebih banyak dari pada dari Bizantium. 

Penting dicatat disini, bahwa pemberian pujian atas sains Islam merupakan fenomena baru abad ke-20. Tidak akan ditemukan hal yang sama di dalam literatur orientalis abad ke-18 dan ke-19. Alasannya sangat jelas, sampai periode supremasi bangsa Eropa, Islam telah menjadi lambang ancaman militer dan moral yang penting bagi agama Kristen, karena Islamlah agama alternatif yang amat kuat dan berkembang pesat. 

Di pertengahan abad ke-8 M, ketika Afrika Timur dan Barat menikmati kenyamanan dalam segi material, kebersamaan, keadilan, dan kesejahteraan di bawah naungan pemimpin Islam, tetangganya di jazirah Spanyol berada dalam keadaan menyedihkan di bawah kekuasaan tangan besi penguasa Visighotic. Kemudian pada tahun 750 M, Islam memasuki Andalusia di bawah pimpinan Panglima Thariq, seorang remaja berkebangsaan Barber yang baru memeluk Islam. Sebenarnya masyarakat kelas ke-2 dan kelas ke-3 di Andalusia telah mendengar akan ketinggian moral dan peradaban Islam, sehingga kemenangan Panglima Thariq disambut dengan gegap gempita oleh masyarakat setempat. Pada masa selanjutnya kehadiran Islam di Eropa Barat Daya tersebut bagaikan cahaya di tengah kegelapan. Di bawah pimpinan pemerintah Islam, Andalusia mengalami kemajuan pesat seiring dengan peradaban-peradaban Islam pada masanya. Andalusia menjadi setinggi-tinggi peradaban selari dengan peradan di negeri-negeri Islam tetangganya yang berkilauan bagaikan bintang-bintang di antariksa, layaknya negeri “seribu satu malam".

Mulai abad delapan mazhab Maliki berkembang pesat di seluruh penjuru Afrika Utara sebagai administrasi hukum, pendidikan dan legitimasi. Dua abad kemudian Sufisme juga menjadi basis pengorganisasian warga pedalaman di Tunisia, Aljazair dan Maroko. Ia menjadi pemimpin koalisi kesukuan sebagai perlawanan bagi rezim negara (Lapidus, 2000, pp. 629–630).
  
Saat keberadaan umat muslim di Spanyol berakhir, masyarakat muslim di Afrika Utara justru memasuki tahap perkembangan baru. Dengan kehancuran Dinasti Al-Muwahhidun mulai terbentuk konfigurasi baru antara negara dan masyarakat. Meskipun pola kekhalifahan tetap dilanjutkan namun negara-negara Afrika Utara mengarah pada pola struktur institusional Timur Tengah model Saljuk dan model Mamluk-Ayyubiyah di Mesir. Beberapa rezim dibentuk mewarisi Dinasti AlMuwahhidun dimana mereka didukung mawali (golongan muslim non-Arab), pasukan budak, pasukan bayaran dan birokrasi keluarga yang bergantung pada kesukuan yang berkuasa. Sejalan dengan hal tersebut terjadi penyebaran Sufisme.
Dari Andalusia inilah (sekarang dikenal Spanyol) masyarakat Eropa menyerap peradaban Islam baik dalam bidang politik, ekonomi, sosial, dan peradaban antar negara, tidak terkecuali ilmu pengetahuan dan teknologi. Sebagaimana Watt menyatakan, pengaruh Islam dirasakan di Eropa Barat terutama melalui Spanyol, dan pada tingkat yang lebih kecil melalui Sisilia. 

Kesenjangan di antara umat Islam dan Eropa pada masa-masa keemasan Islam sangat jelas sekali. Jalan-jalannya mulus, lorong-lorong kota Bagdad, Damaskus, Cordoba dan kota-kota lainnya diterangi beribu lampu di malam hari, sedang jalan-jalan di Eropa masih becek dan gelap. Penguasa-penguasa Islam sangat mencintai Ilmu, istana-istana kekhalifahan dipenuhi buku-buku dan ilmuwan-ilmuwan, sedangkan di Eropa, geraja masih disibukkan dengan pembunuhan dan pembakaran ilmuwan dan ahli sihir yang dianggap bertentangan dengan ajaran gereja. 

Islam mampu membangun peradaban yang mengagumkan dunia. Baik itu dari segi arsitektur, teknologi, kudayaan, ilmu pengetahuan, tata bahasa, norma-norma sosial dan banyak lagi. Kalau boleh memijam istilah Maria Rosa Menocal dalam bukunya yang berjudul Sepotong Surga di Andalusia, ungkapan “The ornament of the world”, secara harfiah bisa didefinisikan sebagai “Perhiasan dunia”, adalah gambaran ketinggian peradaban Islam. Karena itulah gelar yang diberikan kepada Cordoba ibu kota Andalusia, sebagai ungkapan kagum seorang biarawati sekaligus penulis berkebangsaan Saxon pada abad ke-10. Dan yang terpenting di dalam essai ini adalah pemikir-pemikir Islam yang telah menyumbangkan keunggulan-keunggulan karya mereka sehingga memposisikan umat Islam pada masa itu benar-benar menjadi umat terbaik di dunia. Tidak hanya sekadar itu, pemikir-pemikir Islam mampu memberikan kontribusi yang masih signifikan sampai peradaban hari ini. Terlepas dari apakah pada saat ini Islam telah menjadi umat yang terbelakang atau umat yang mulai kembali berkembang untuk membangun peradabannya, namun Islam baik sebagai agama atau sebagai the way of life, tetap dianggap sebagai sebuah konsep yang unggul. Ini dibuktikan dengan ungkapan Paul alvarus, seorang tokoh Kristen yang vokal dan dihormati, yang hidup di Cordova pada pertengahan abad ke-9 mengungkapkan keresahan suara hatinya: 

“Orang-orang Kristen sangat senang membaca berbagai syair dan roman Arab. Mereka mempelajari para teolog dan filosof Arab, bukan untuk menolak pemikiranya, melainkan untuk mengetahui tata bahasa Arab yang benar dan indah. Adakah rakyat jelata yang masih mau membaca tafsir-tafsir kitab suci berbahasa Latin atau mempelajari Injil, kisah-kisah Nabi dan Rasul? Celaka! Semua pemuda Kristen yang berbakat membaca dan mempelajari buku-buku Arab dengan antusias. Mereka menghimpun perpustakaan-perpustakaan besar dengan biaya yang tak sedikit. Mereka sepelekan buku-buku Kristen dan menganggapnya tak layak dipelajari. Pemuda-pemuda Kristen telah lupa terhadap bahasa sendiri. Untuk setiap satu orang yang bisa berkorespondensi dalam bahasa Latin kepada temannya, terdapat seribu orang yang bisa menulis, menuangkan ide dan pemikiran mereka dengan bahasa Arab yang indah, dan bahkan menulis syair-syair Arab lebih baik dibanding orang-orang Arab sendiri."

Ini adalah sebuah ancaman yang sangat besar bagi bangsa Eropa dan agama Kristen yang menjadi jirannya pada masa itu, baik sebagai kelompok manusia budaya maupun umat beragama. Jadi untuk menjelaskan tersebarnya Islam, Kristen telah mengembangkan stigma yang mengatakan sukses Islam adalah hasil dari kekerasan, gejolak nafsu dan kebohongan kaum Muslim. Tentu saja ini adalah pernyataan yang “menghibur” pada masa ketika imperialisme perdagangan Eropa mulai tumbuh. Dengan mengembangkan teori tersebut ‘penderitaan orang kulit putih’ tidak hanya menjadi lebih ringan untuk dipikul, tapi penaklukan militer juga membentuk moral imperatif saat orang-orang buas yang tidak mengerti akan keagungan nilai sains. 

Ungkapan di atas menggambarkan keunggulan Islam yang membuat ciut nyali dunia dengan kreativitas umatnya dalam membangun peradaban. Kendatipun dalam catatan sejarah, pada abad 13 sampai abad 18 peradaban Islam telah mengalami kemunduran, tetapi Islam masih saja membuat kecut pihak yang menganggapnya sebagai lawan. Karena pada abad-abad sebelumnya, para pemikir Islam telah mewariskan karya-karya agung yang tidak hanya digandrungi oleh umat Islam, tapi oleh umat-umat yang memusuhi Islam. Tidak dinapikan keunggulan itu terlahir dengan ajaran Islam yang sangat mendorong umatnya mendalami ilmu pengetahuan. Islam juga memandang tinggi kedudukan akal. Dalam waktu yang sama Islam juga menekankan tingginya nilai etika, akhlak dan norma-norma sosial. Tapi yang paling utama dasar ajaran Islam adalah tauhid. 

Bila kita kembali ke sejarah, pasti kita akan menemukan manusia-manusia unggul, pemikir-pemikir yang berjasa kepada kemajuan Islam dan dunia pada saat ini. Sebut saja misalnya Al-kindi (801-865), Al-Farabi (870-950), Ibnu Sina (980-1037), dan Ibn Rusyd (1126-1198), masih disebut sebagai tokoh-tokoh ideal yang dicanangkan sebagai model fase kemajuan berfikir dan kebangkitan dalam dunia Muslim. Para filosof Muslim sangat mengedepankan logika dan cara berfikir yang benar, tanpa ada maksud untuk mngesampingkan wahyu, tetapi penggunaan rasio adalah juga karunia Allah yang amat berharga. Di tangan para ilmuwan inilah terlahir karya-karya yang masih menjadi rujukan berabad-abad dan sebagian teks aslinya masih bisa kita temukan di perpustakaan-perpustakan Eropa. 

Pemikir Islam, Ibnu Rusyd (1120-1198 M) misalnya, di Barat dikenal dengan nama Averos. Ia melepaskan belenggu taklid dan menganjurkan kebebasan berfikir. Ia mengulas pemikiran Aristoteles dengan cara yang memikat minat semua orang yang befikir bebas. Ia mengedepankan sunatullah menurut pengertian Islam terhadap patheisme dan anthrophomorphisme Kristen. Demikian besar pengaruhnya di Eropa, sehingga di Eropa timbul gerakan Averoisme (Ibn Rusyd-isme) yang menuntut kebebasan berfikir. Bermula dari pemikiran dan gerakan ini di Eropa kemudian lahir reformasi pada abad ke-16 M dan rasionalisme pada abad ke 17 M. Berawalnya pengaruh penyerapan peradaban Islam ke Eropa dimulai dari pemuda-pemuda Kristen belajar ke Universitas-Universitas Islam. Kemudian di Paris didirikan Universitas yang sama dengan Negara Islam pada tahun 1231 M, tiga puluh tahun setelah wafatnya Ibnu Rusyd. 
Dibidang teologi, dunia Islam diramaikan oleh ahli-ahli ilmu kalam yang berasal dari berbagai aliran. Seperti aliran Mu’tazilah yang sangat menghargai ketinggian akal. Bagi kaum yang berfaham Mu’tazilah, dengan potensi akal yang dimiliki manusia, manusia dapat mengkaji kebenaran sampai ketahap mampu mengetahui adanya Tuhan, baik buruk sebuah perbuatan dan banyak lagi persoalan teologi yang dipaparkannya dengan pola yang sangat menarik. Pada dasarnya pemikiran Mu’tazilah didominasi teologi rasional. 

Paham yang bersebrangan denga Mu’tazilah adalah Asy’ariyah. Teologi Asy’ariyah yang lebih berpandangan teologi tradisional beranggapan kemampuan akal hanya mampu ke tahap mengakui adanya Tuhan. Sedangkan selebihnya tidak mampu diakses oleh akal. Kendati demikian, dari segi diaelektikanya, kaum Asy’ariyah tetap mengedepankan argumen secara rasional untuk mengenal Allah dan ini tetap dianggap merupakan kelanjutan metode kalam Mu’tazilah. 

Selain ketinggian akal dan keutamaan argumen rasio seorang muslim juga wajib memiliki ketinggian Akhlak. Keutamaan ajaran tasawuf adalah menuju akhlak yang terpuji dan meninggalkan serta menjauhi akhlak yang tercela. Mengutamakan gerakan hati nurani atau intuisi disamping akal untuk melihat kebenaran. Namun, ketika ketiga unsur ini dikolaborasikan, maka, akal yang di bimbing oleh wahyu dan dibarengi ketinggian akhlak akan melahirkan pribadi-pribadi unggul yang sangat diperlukan untuk membangun umat. Inilah keunggulan peradaban Islam yang tidak dimiliki oleh peradaban-peradaban lainnya. Kendatipun Islam dihancurkan oleh orang-orang yang buas dan rakus seperti bangsa Mughal, namun ketika mereka berinteraksi dan mendalami peradaban Islam, mereka terus jatuh cinta padanya dan membangun kembali peradaban Islam. 

Begitu juga bangsa-bangsa Eropa yang dengan keji dan brutal mengusir Islam dari Granada Spanyol, namun nilai-nilai Islam sangat mereka cintai. Sebagaiman Watt mencatatkan “ dan nampaknya dapat dibenarkan kalau disebutkan bahwa agenda-agenda acara atau aturan-aturan waktu yang harus kita ikuti dalam acara-acara formal mungkin berasal dari Ziryab ini”. Selanjutnya Watt menyatakan, ketika orang-orang Romawi memasukkan wilayah Yunani ke dalam wilayah kekuasaan mereka, akibatnya adalah seperti yang dikatakan seorang penyair Latin “Yunani yang telah tertaklukkan membuat takluk penakluknya yang besar.” Namun penaklukkan orang-orang Arab tidak membawa mereka “tertaklukkan” sebagaimana terjadi pada penakluk Romawi. Mereka bahkan berhasil mendesakkan bahasa mereka, bahkan apa yang menjadi sudut pandang mereka, kepada hampir seluruh masyarakat yang ditundukkan di bawah kekuasaanya. 

Islam adalah agama yang benar, maka dari itu Islam tidak akan melewatkan segala aspek yang diperlukan manusia. Filsafat sangat diperlukan manusia untuk mencapai kesuksesan di dunia. Teologi adalah keperluan manusia sendiri kepada Tuhan yang menciptakannya supaya manusia selalu ingat pada setiap kesuksesan pikirannya. Tasawuf diperlukan filsafat dan teologi sebagai penyeimbang antara dunia dan Tuhannya. Tasawuf juga merupakan pembimbing akhlak manusia supaya benar-benar kelihatan manusianya dan untuk manusia mencapai kebahagiaan serta kesuksesan di dunia maupun di akhirat. Manusia memerlukan akal, dan akal perlukan Tuhan. Di antara manusia, akal, dan Tuhan diperlukan hati atau intuisi yang dicerminkan oleh etika dan akhlak yang mulia supaya semua unsur tersebut tetap seimbang di dalam manusia.

Islam sebagai agama yang membawa rahmat untuk semesta alam, lahir di kota Makkah dan tumbuh berkembang di Madinah, dan selanjutnya menyebar ke setiap sudut jazirah Arab serta akhirnya menyebar ke seantero dunia. Kehadiran Islam ini telah dapat mewujudkan suatu peradaban yang terkemuka dan kaffah, peradaban ini dikenal dengan “Peradaban Islam”. Peradaban Islam mencakup seluruh aspek kebutuhan hidup manusia, bahkan berimbas kepada semua makhluk ciptaan Tuhan. Al-Qur’an dijadikan sebagai sumber pokok pembentukan peradaban ini.
Peradaban yang berlaku umum, tentu saja peradaban yang mendahulukan kepentingan bersama, dan tidak bersifat politis. Manakala peradaban dikaitkan dengan tujuan politik tertentu, maka akan tercipta sebuah “prasangka-prasangka” negatif dalam proses dialektika peradaban. Disinilah pentingnya menerapkan teori fungsionalisme. Menurut para fungsionalis, masyarakat adalah statis atau masyarakat berada dalam keadaan berubah secara seimbang. Fungsionalis menekankan pada keteraturan masyarakat. Fungsionalis menyatakan bahwa setiap elemen masyarakat berperan dalam menjaga stabilitas. Fungsionalis cenderung melihat masyarakat secara informal diikat oleh norma, nilai, dan moral. Fungsionalis memusatkan perhatian kepada kohesi yang diciptakan oleh nilai bersama masyarakat. Dengan demikian teori konflik adalah kebalikan dari teori fungsional. Sementara itu dialog peradaban ini, dalam konteks agama, Ninian Smart berpendapat kita memerlukan suatu world view bagi dunia yang juga tidak menjadikan seluruh agama itu sama, tetapi menekankan nilai-nilai komplementer agama dalam membantu membangun peradaban global yang sesungguhnya kita perlu melihat agama-agama dalam model konteks yang sama, sebagaimana demokrasi merupakan cara menghilangkan kekerasan dalam memilih kebijakan, demikian juga demokrasi spiritual seharusnya dapat menghilangkan kekerasan inter-religius dan inter-ideologis. Setidaknya perang dingin (dengan sisi religious yang dimiliki) berakhir, dan kita membutuhkan suatu pandangan dunia yang serba mencakup bagi seluruh umat manusia.

Pengaruh Teknologi Terhadap Sosial Budaya terbagi atas 2 yaitu Teknologi Komunikasi, Nilai dan Moral. Teknologi komunikasi adalah peralatan perangkat keras (hardware) dalam sebuah struktur organisasi yang mengandung nilai-nilai sosial, yang memungkinkan setiap individu mengumpulkan, memproses dan saling tukar-menukar dengan individu-individu lainnya.

Nilai adalah sesuatu yang berharga, bermutu, menunjukan kualitas dan berarti atau berguna bagi manusia. Menilai berarti menimbang suatu kegiatan manusia untuk membandingkan sesuatu dengan sesuatu yang lain kemudian untuk selanjutnya diambil keputusan mana yang lebih baik. Nilai bersumber dari budi pekerti yang berfungsi mendorong dan mengarahkan sikap dan perilaku manusia. Nilai sebagai suatu sistem merupakan salah satu wujud kebudayaan disamping sistem sosial dan karya. Nilai sosial merupakan landasan bagi masyarakat untuk merumuskan apa yang benar dan penting, memiliki ciri-ciri tersendiri dan berperan penting untuk mendorong dan mengarahkan individu agar berbuat sesuai norma yang berlaku.

Moral berasal dari kata mos (mores) yang sinonim dengan kesusilaan, tabiat atau kelakuan. Moral adalah ajaran tentang hal baik dan buruk, yang menyangkut tingkah laku dan perbuatan manusia. Seorang pribadi yang taat pada aturan-aturan, kaidah-kaidah dan norma yang berlaku dalam masyarakat, dianggap sesuai dan bertindak benar secara moral.

Budaya saat ini sudah mulai kendor dan bahkan sudah mulai hilang dalam kehidupan masyarakat sebagai contohnya permainan tradisional yang kini sudah mulai hilang, permainan tradisional yang seharusnya dimainkan oleh anak-anak untuk mengisi waktu luangnya, sehingga masa kecilnya dipenuhi dengan warna-warninya kehidupan. Yang juga dapat dijadikan sebagai pengalaman bagi mereka. Perlahan seakan hilang dari masyarakat. Sebagai contoh orang tua menafkahi anak mereka dengan berbagai macam teknologi yang canggih, seperti permainan game video, dan bahkan anak yang seharusnya belum waktunya mengenyam teknologi sudah dibekali dengan gadget yang membuat mereka merasa malas bermain di luar dan dekat dengan alam. 

||Toddo Lentu Batujala||
Malang, 28 Desember 2024

Biraeng

Memesona senyummu
Mewarnai parasmu
Menghiasi relung sukmaku
Mendiamkan denyut nadiku

Matamu mencuri pandanganku
Membelenggu hatiku
Tatapanmu menghantam naluriku
Detak jantungku bingung tak menentu

Malam nan sunyi ini
Seolah aku dalam mimpiku
Hanyut dalam bayangmu
Engkau bagai Bunga Biraeng
Dambaan dan harapan semua orang

Oh Biraengku ...
Jika engkau rahmat
Kan kubuka hatiku 
Biarkan jiwaku menyatu
Bergerak mengalir menuju keabadian
Gemakan firman Tuhan
Kun fayakun

||Toddo Lentu Batujala
Bantaeng, 25 Maret 2024

Inikah Kemerdekaan

Hingga lampu-lampu itu mulai padam 
Aku masih mempertaruhkan hidup demi lambung kian perih

Pada rembulan menyapa gelap malam
Pada dekapan asap karbon monoksida
Aku melangkah berselimut kabut malam 
Dengan siulan terdengar tak nyaring
Gemetar tubuhku dan bertanya dalam hati
Sungguh, inikah kemerdekaan di negeri ini?

Nampak jelas grafiti pada tembok lorong-lorong sempit nan kumuh
"kemerdakaan hanya gincu"

Terbayang seorang pemuda kehilangan figur, terduduk sungkur 
Wajah petani kusam, lesuh penuh harap panen besar
Para pedagang di teras toko terbujur tubuh kurus dengan mimik mengharap iba

Sementara itu ...
Pada gedung instansi disibukkan dengan data dan bukti 
Pada media massa tersebar proses penangakapan binatang berjalan tegak
Manusia tanpa akal, tanpa hati 

Heiii ... 
Engkau dipilih bukan dilotre
Enkau janji membela pertiwi
Engkau janji wujudkan kemerdekaan hakiki

Inikah kemerdekaan yang engkau maksud? Haaahhhh...!!!

Merdeka dari tikaman kerakusan dan keserakahan bertebaran
Merdeka dari kesuburan gratifikasi, korupsi, dan kolusi
Ataukah semua telah mati
Mati dari kepekaan dan kepedulian
Mati dari kemurnian nurani dan ketulusan hati

||Toddo Lentu Batujala||
Bantaeng, 31 Maret 2024

Tekad

Pada wajah siapa 
Aku tak melihat wajahmu
Pada dunia mana 
Aku tak mengingat namamu
Tiada yang mendengarku kecuali rinduku
Tiada yang menjawabku selain naluriku

Tak ada yang lebih sepi 
Dari bayangmu
Tak ada yang lebih pilu 
Dari mengingatmu
Tak ada yang lebih sakit 
Dari memanggil namamu

Kabut berderu menyelimuti dahan dan ranting
Di belantara ini jejakku selalu bersamamu
Kemana aku kan pulang?
Badai fajar di bahuku
Gelap malam di depanku
Adakah rembulan siaga menyinari langkahku?

Ku terus berjalan dan melangkah
Kuharap kau tahu
Aku kan memandangimu
Saat berjalan di batas dua dunia
Menggapai senja, membangunkan fajar
Ini bukan nekat, tapi sebuah tekad

||Toddo Lentu Batujala||
Bantaeng, 25 Maret 2024

Keterasingan

Keterasinganku saat ini adalah hasil dari sebuah pilihan atas dasar idealisme

Keterasinganku saat ini adalah hasil dari sebuah perhitungan yang tepat dan tekad untuk melangkah

Keterasinganku saat ini adalah akibat dari perlawanan hidup di tengah masyarakat yang dibangun atas kezaliman dan penindasan

Keterasinganku saat ini adalah perlawanan menghadapi kebodohan dan apatisme

Keterasinganku saat ini adalah perlawanan menghadapi pemasungan pandangan yang benar

Keterasinganku saat ini adalah perlawanan menghadapai dekadensi dan terkungkung oleh kebingungan

Keterasinganku saat ini adalah perlawanan menghadapi seorang pemikir yang menjdi alat kezaliman

Keterasinganku saat ini adalah anugerah dari Tuhanku

Toddo Lentu Batujala, 31 Des 2019

Bukan Pemuda Sempurna

Aku bukan pemuda sempurna
Namun pemuda mesti diberi penerangan
Penerangan yang bukan menjerumuskan
Pekerjaanmu hanya mempropaganda pemuda 
Aku tak ingin dan tak butuh kedudukanmu
Aku tak ingin jadi ekor dan beomu

Aku hanya menitip pesan
Bahwa di luar kantormu itu
Masih banyak pemuda yang berdarah Singa
100% lebih bersih dari darahmu dan gerombolanmu

Mereka sekarang gelisah melihat penindasanmu
Dan sementara ini menangis
Melihat kelakuan gerombolanmu
Yang melontekan diri
Menjadi alat kezaliman

Hingga di kemudian hari
Mereka para pemuda
Meneriakkan kebenaran 
Yang akan disaksikan oleh para pengkhianat

Aku bukan pemuda sempurna
Aku tinggal di gubuk
Hanya bisa nongkrong di pinggir jalan
Tak punya kuasa 

||Toddo Lentu Batujala| Bantaeng, 12 November 2018||

Surat Cinta dari Hutan

Yth. Khalifah di Bumi
Kumulai dengan sebuah tanya
Coba tanya nalurimu yang paling dalam
Sebelum engkau benar-benar 
Menjadi sesuatu yang dikhawatirkan para Malaikat

Masihkah engkau menikmati rindangnya hutan
Bila aku selalu menjadi sasaran eksploitasi
Dari para kaum serakah yang hatinya penuh amarah?

Masihkah engkau merasakan sejuknya pemandangan gunung dengan pohon menjulang tinggi 
Bila aku digunduli dengan mesin-mesin kapitalis yang tahu hanya untung?

Tanahku dahulu 
Tanah yang subur, kaya sumber mata air
Hutannya adalah rumah bagi satwa endemik

Kini...
Tanah itu subur akan air mata
Akar pohon yang memeluk tanah
Lengannya dipotong lalu jadi arang
Musim hujan, banjir dan tanah longsor bertamu
Musim panas, kekeringan melanda menyengat
Bagaimana bisa engkau tidak kusalahkan?

Heiii...tangan-tangan keserakahan
Engkau telah merebut segalanya dari anak cucumu
Mata air suci itu
Pagi nan indah itu
Udara segar itu
Kau juga merebut kesejukan itu
Bagaimana bisa engkau tidak kusalahkan?

Kini tubuhku semakin rentah
Dengan penderitaan membelenggu
Nadiku semakin melemah
Beberapa detak jantung lagi aku mati

Kukatakan pada kalian
Aku mencintaimu
Sebab, aku tercipta untukmu
Yang telah dititipkan sayap Tuhan
Untuk terbang mengepak di atas tubuhku

Aku memohon kepada kalian
Yang telah direstui langit 
Menjadi sebagai Khalifah
Hentikan bergerak membulalak
Hiduplah tumbuh bahagia
Bersama Flora dan Fauna

Abd. Rahman ||Malang, 17 Januari 2024||

Renjana

Meski langit tak memberi izin
Mencintaimu pilihanku
Walau itu kesalahanku
Biarlah diriku tenggelam dalam rasa ini

Jadi angin, aku tak melihatmu
Jadi air, engkau tak bisa kagenggam
Kutau aku kalah karena salah
Ku hanya ingin semesta mencatat cintaku

Kelak rohku beranjak
Kuingin kau tanam mawar di halaman rumahmu
Kelak kau ingat tentangku
Petiklah bunganya, simpan durinya untukku

Tiap daun yang gugur itu 
Adalah wujud rinduku tentangmu
Tiap air hujan turun basahi daun dan bunganya
Adalah wujud isakku menyapa harapan 

||Toddo Lentu Batujala, 8 April 2024||

Senja

Di ufuk barat telah membentang
Cahaya keemasan di cakrawala
Mentari siap terbenam, tenggelam
Mengganti keindahan dari Sang Pencipta

Masih dalam renungan malam
Saat bulan tersenyum manis menyapa naluri
Kala bintang memeluk hangat jiwa
Bahagiakan rongga hati tersinari

Cahaya rembulan menembus 
Di sudut langit berawan tipis berarak ikuti angin
Bergelombang mengombak-ombak
Di sana terhampar serpihan surga

Sungguh... Senja...
Mengajarkan bahwa keindahan 
Tak harus selalu didekati
Tak harus selalu dimiliki

||Toddo Lentu Bantujala, 9 April 2024||

Salam Ramadan

Jika lehermu menahan dahaga 
Semesta akan sediakan minuman
Ketika perutmu kosong dari makanan
Langit akan menyuguhkan hidangan 

Di balik pahitnya lambung 
Tersembunyi penawar rasa manis
Di balik rasa terbakarnya lehermu karena puasa
Tersembunyi penyejuk yang akan menghembuskan dari dadamu

Sebuah musim telah berakhir
Bulan ampunan dan kasih sayang
Bulan pencerahan dan penyucian
Penuh cinta dan kedamaian

Akhirnya...
Kemenangan akan tercapai
Derajat dan fitrahmu akan melesat naik 
Beribu derajat dalam langkah dan citamu

Dunia kita hari ini
Bersinar lebih cerah
Suci lahir dan batin
Demikian perhiasan yang berharga dari Robmu

Ucapkan salam perpisahan
Sampai jumpa ... Ramadan ...

||Toddo Lentu Batujala, 10 April 2024||

Damai Pagi

Sang fajar telah beranjak bangun
Bersiap menjemput mesra kesejukan pagi
Meneguk kegelapan malam
Menyempurnakan hangatnya Sang Surya

Kubuka mata tanpa beban
Kabut tebal menyelimuti bumi
Embun masih memeluk daun dan ranting
Indahnya langit biru terbentang bagai lautan

Pada deru air
Burung  berceloteh tentang cinta
Pada iringan sang bayu sepoi
Burung camar menari riang dalam rindu

Akhirnya aku berharap ..
Sang surya yang perkasa
Memancar benderang dari ufuk timur
Mengantar secercah harapan 
Hangatkan jiwa
Damaikan hati
Tenteram bersamamu

||Toddo Lentu Batujala, 11 April 2024||