Rabu, 08 Oktober 2025

Kritik Sastra Satire Sajak Palsu: Pendidikan sebagai Awal Mula Kepalsuan

Sajak Palsu adalah judul puisi karya Agus R. Sarjono yang ditulis sebagai kritik sosial terhadap berbagai kepalsuan yang melanda masyarakat. Puisi ini menggambarkan bagaimana kepalsuan telah merasuki berbagai aspek kehidupan, termasuk pendidikan, ekonomi, politik, dan bahkan seni. 
Makna dan pesan yang disampaikan dalam sajak ini, antara lain:
Kritik terhadap pendidikan: Sajak ini menyinggung praktik "perhatian dan rasa hormat palsu" yang diberikan kepada guru, yang bisa diartikan sebagai bentuk korupsi dan ketidakjujuran yang dimulai dari lingkup pendidikan.
Sindiran terhadap orang-orang yang berpura-pura: Melalui sajak ini, Sarjono menyindir orang-orang yang menganggap diri berpendidikan, namun gagal menerapkan ilmunya untuk kebaikan, terutama para sarjana yang kembali ke kampung halaman namun tidak memberikan dampak positif.
Kepalsuan yang merata: Puisi ini menggambarkan kepalsuan yang sistemik, dengan adanya "ahli hukum palsu, ahli pertanian palsu, insinyur palsu" yang menunjukkan bahwa ketidakjujuran telah meluas ke berbagai profesi dan lapisan masyarakat.

Reproduksi struktur sosial korup: Analisis sajak ini menunjukkan bahwa korupsi bukan hanya tindakan individu, melainkan praktik budaya yang terstruktur. Elite kekuasaan mempertahankan posisinya dengan mengendalikan akses ke legitimasi akademik. 
Sajak Palsu merupakan contoh puisi satire, yaitu puisi yang berisi sindiran atau kritik halus terhadap fenomena sosial tertentu, dalam hal ini adalah kepalsuan yang merajalela di Indonesia. Puisi ini menyoroti bagaimana korupsi dan ketidakjujuran telah menjadi bagian dari realitas sehari-hari. 

Puisi "Sajak Palsu" karya Agus R. Sarjono adalah sebuah kritik sosial yang tajam dan menyeluruh, menggambarkan bagaimana kepalsuan telah mengakar dalam setiap lapisan masyarakat. Dengan bahasa yang lugas dan naratif, puisi ini menelusuri perjalanan kepalsuan dari dunia pendidikan hingga krisis ekonomi dan politik, menunjukkan bagaimana satu kepalsuan melahirkan kepalsuan berikutnya dalam sebuah lingkaran setan yang tak berujung. 

Pendidikan sebagai Awal Mula Kepalsuan
Puisi ini dimulai dengan gambaran yang menohok tentang dunia pendidikan. Salam "Selamat pagi pak, selamat pagi bu" dari para siswa ternyata hanyalah "sapaan palsu". Kepalsuan ini berlanjut ketika mereka "belajar sejarah palsu dari buku-buku palsu", yang menunjukkan adanya penyimpangan dalam narasi sejarah yang diajarkan. Puncaknya, mereka menerima "hamparan nilai mereka yang palsu". Ketika nilai-nilai ini tidak memadai, praktik suap pun terjadi. Para siswa datang ke rumah guru dengan "amplop berisi perhatian dan rasa hormat palsu". Para guru, meskipun "tersipu palsu" dan "membuat tolakan-tolakan palsu", akhirnya menerima amplop tersebut, dan berjanji "mengubah nilai-nilai palsu dengan nilai-nilai palsu yang baru". Selain itu, saat ini dunia pendidikan dihadapkan dengan aturan yang irasional bahwa semua siswa tidak boleh lagi ada yang tinggal kelas atau tidak lulus yang pada akhirnya akan mengakibatkan pengaturan atau pengubahan nilai pada rapor dan ijazah siswa yang tidak layak lulus, hasilnya adalah sebuah ketidakadilan dimulai dari hal tersebut, tidak adil terhadap siswa yang layak naik kelas atau lulus baik secara kognitif maupun afektif.
Adegan ini adalah sebuah sindiran keras terhadap bobroknya sistem pendidikan.  Bahkan sejak awal penerimaan siswa baru pun kadang sekolah-sekolah memanipulasi data jumlah peserta didik baru dengan tujuan memenuhi jumlah rombongan belajar dan mendapatkan dana BOS yang maksimal. Alih-alih menjadi tempat untuk mencari kebenaran, justru menjadi pabrik yang memproduksi kepalsuan. Proses ini mengajarkan kepada generasi muda bahwa integritas bisa dibeli dan kebenaran bisa dimanipulasi, sehingga menciptakan fondasi bagi sistem yang korup di masa depan. 

Kepalsuan yang Merata di Masyarakat
Setelah tamat sekolah, para siswa yang telah terlatih dalam kepalsuan ini kemudian menjelma menjadi berbagai profesional "palsu", seperti "ekonom-ekonom palsu, ahli hukum palsu, ahli pertanian palsu, insinyur palsu". Bahkan, mereka yang memilih jalur akademis atau seni pun menjadi "guru, ilmuwan, atau seniman palsu". Kepalsuan yang dimulai dari sekolah kini meluas dan merata ke seluruh sendi kehidupan, menciptakan masyarakat yang dibangun di atas fondasi yang rapuh. 

Ekonomi dan Politik Palsu
Dengan "gairah tinggi", para profesional palsu ini berpartisipasi dalam "pembangunan palsu". Ekonomi menjadi "panglima palsu", mendorong "perniagaan palsu" dengan "ekspor dan impor palsu" yang mendatangkan "barang kelontong kualitas palsu". Sistem finansial pun tidak luput, dengan "bank-bank palsu" yang menawarkan "bonus dan hadiah-hadiah palsu", namun juga terlibat dalam praktik gelap seperti "pinjaman dengan ijin dan surat palsu". Semua ini dijamin oleh "pejabat-pejabat palsu". 
Lingkaran kepalsuan ini mencapai puncaknya ketika masyarakat yang bertransaksi dengan "uang palsu" dijamin oleh "devisa palsu", membuat perekonomian menjadi sangat rentan. Kedatangan "uang-uang asing" dengan "kurs palsu" akhirnya memicu "krisis" yang meruntuhkan "pemerintahan palsu". Narasi ini secara gamblang menggambarkan bagaimana ketidakjujuran dan korupsi yang terstruktur dari hulu ke hilir akan berujung pada kehancuran sistemik. 

Demokrasi yang Palsu
Pada akhir puisi, muncullah gambaran tentang para "orang-orang palsu" yang "meneriakkan kegembiraan palsu" menyambut kejatuhan pemerintahan yang palsu. Mereka kemudian terlibat dalam "seminar dan dialog-dialog palsu" untuk mendebatkan "gagasan-gagasan palsu", yang pada akhirnya menyambut "demokrasi palsu". Puisi ini menyimpulkan bahwa meskipun terjadi pergantian rezim, akar masalahnya, yaitu budaya kepalsuan, tetap tidak berubah. Demokrasi yang seharusnya menjadi harapan baru justru hanya menjadi kepalsuan baru yang "berkibar-kibar begitu nyaring dan palsu". 

Kesimpulan
Secara keseluruhan, "Sajak Palsu" adalah sebuah potret satir yang brutal tentang masyarakat yang kehilangan integritasnya. Agus R. Sarjono dengan cerdas menggunakan repetisi kata "palsu" untuk menekankan betapa sistemik dan menyeluruhnya masalah ini. Ia menunjukkan bahwa kepalsuan tidak hanya terbatas pada individu, tetapi telah menjadi norma yang membentuk seluruh struktur sosial, dari pendidikan, ekonomi, hingga politik. Puisi ini berfungsi sebagai pengingat bahwa perubahan sejati tidak dapat terjadi jika fondasi masyarakat masih dibangun di atas kebohongan. 

Berikut naskah Puisi Satire "Sajak Palsu"
SMP Muhammadiyah Bateballa, 9 Oktober 2025||Toddo Lentu Batujala

Rabu, 01 Oktober 2025

Mengapa sekolah tidak mengajarkan bangkit setelah gagal?

Dalam sistem pendidikan modern, sekolah sering kali lebih sibuk mengejar angka, ranking, dan standar kelulusan daripada menanamkan keterampilan hidup yang nyata. Anak-anak diajarkan untuk mendapatkan nilai tinggi, menghafal rumus, dan mengikuti aturan ujian. Namun, sangat jarang mereka diajarkan bagaimana menghadapi kegagalan—padahal hidup nyata justru penuh dengan jatuh bangun. Inilah salah satu ironi pendidikan: kita dibentuk untuk takut salah, bukan untuk belajar dari kesalahan.

Akibatnya, banyak anak tumbuh dengan mental rapuh. Mereka merasa gagal adalah aib, sesuatu yang harus dihindari dengan segala cara. Padahal, kegagalan adalah guru terbesar yang bisa mengajarkan kesabaran, ketekunan, dan kreativitas. Sekolah boleh jadi berhasil mencetak anak-anak pintar secara akademis, tetapi gagal membentuk pribadi tangguh yang siap menghadapi kerasnya dunia nyata.

1. Sekolah Terjebak dalam Budaya Angka

Sekolah sering mengukur keberhasilan siswa lewat nilai rapor dan ranking. Anak yang nilainya rendah otomatis dianggap gagal, padahal bisa jadi ia hanya sedang belajar dengan cara yang berbeda. Budaya angka ini membuat anak berpikir bahwa kegagalan tidak boleh ada tempatnya.

Padahal dalam hidup, kegagalan adalah bagian wajar dari proses menuju sukses. Tanpa pengalaman jatuh, seseorang tidak akan belajar berdiri lebih kuat. Sayangnya, sekolah jarang memberikan ruang bagi anak untuk gagal, apalagi mengajarkan cara bangkit kembali.

2. Kurikulum Lebih Menekankan Hafalan daripada Mentalitas

Pelajaran di sekolah lebih fokus pada penguasaan materi akademis. Anak dipaksa menghafal rumus, teori, atau fakta, tetapi hampir tidak pernah diajarkan keterampilan mengelola emosi ketika gagal. Padahal, inilah kemampuan yang paling dibutuhkan ketika memasuki dunia kerja maupun kehidupan.

Jika anak terbiasa gagal di kelas tanpa ada bimbingan cara bangkit, mereka akan tumbuh dengan rasa takut mencoba. Hidup nyata jauh lebih kompleks daripada ujian pilihan ganda, dan keberanian untuk mencoba—meski sering salah—jauh lebih penting daripada sekadar hafalan.

3. Rasa Takut Salah Membunuh Kreativitas

Sejak kecil, banyak siswa dididik untuk tidak membuat kesalahan. Jawaban salah diberi tanda merah, hukuman, atau bahkan ejekan dari guru dan teman. Akibatnya, anak belajar menutup diri dan bermain aman, daripada berani bereksperimen.

Padahal, orang-orang besar dalam sejarah—dari ilmuwan hingga pengusaha—selalu melalui ratusan kegagalan sebelum menemukan jalan sukses. Jika sekolah terus mengajarkan bahwa salah itu buruk, maka sekolah secara tidak langsung mematikan kreativitas anak sejak dini.

4. Dunia Nyata Lebih Membutuhkan Mental Tahan Banting

Di luar bangku sekolah, kita akan berhadapan dengan kegagalan: ditolak kerja, gagal bisnis, kehilangan uang, atau ditinggalkan orang yang dicintai. Semua ini tidak ada di buku pelajaran. Ironisnya, anak-anak yang pintar di sekolah sering kali terkejut ketika pertama kali gagal di dunia nyata.

Mental tahan banting, kemampuan bangkit setelah jatuh, dan keberanian untuk mencoba lagi—itulah yang sebenarnya dibutuhkan. Jika sekolah tidak mengajarkannya, maka anak-anak harus belajar sendiri lewat jalan yang lebih keras, dan sering kali penuh luka.

5. Pendidikan Sejati Harus Membebaskan, Bukan Menjinakkan

Paulo Freire, seorang filsuf pendidikan, pernah mengatakan bahwa pendidikan seharusnya membebaskan manusia, bukan menjinakkannya. Mengajarkan anak untuk siap gagal adalah bentuk pendidikan yang membebaskan, karena dari kegagalan mereka belajar berpikir kritis, beradaptasi, dan menemukan jalan mereka sendiri.

Jika sekolah hanya menekankan kepatuhan dan ranking, maka ia sedang menjinakkan siswa agar takut keluar jalur. Namun, jika sekolah berani mengajarkan cara bangkit dari kegagalan, maka ia sedang membentuk generasi yang tangguh, mandiri, dan siap mengubah dunia.

Sekolah seharusnya tidak hanya melatih anak untuk menjadi pintar, tetapi juga untuk menjadi tangguh. Kegagalan bukanlah musuh yang harus dihindari, melainkan sahabat yang bisa membentuk kepribadian. Jika anak-anak tidak diajarkan bagaimana bangkit setelah jatuh, mereka akan tumbuh menjadi generasi yang rapuh, mudah menyerah, dan takut menghadapi kenyataan hidup.

Maka, sudah saatnya paradigma pendidikan berubah. Belajar bukan hanya soal benar atau salah, bukan hanya soal angka di rapor, melainkan soal keberanian untuk mencoba, gagal, lalu bangkit kembali. Sebab, di dunia nyata, pemenang sejati bukanlah mereka yang selalu benar, melainkan mereka yang tidak pernah berhenti mencoba meski berkali-kali salah.

Rabu, 10 September 2025

Asesmen Formatif dan Asesmen Sumatif

👉Asesmen formatif adalah penilaian yang dilakukan selama proses pembelajaran masih berlangsung. Tujuannya bukan untuk memberikan nilai akhir, melainkan untuk melihat sejauh mana siswa sudah memahami materi yang sedang dipelajari. Hasil dari asesmen formatif biasanya digunakan guru untuk memperbaiki cara mengajar atau memberikan bimbingan tambahan kepada siswa. 

👉Sementara itu, asesmen sumatif adalah penilaian yang dilakukan di akhir pembelajaran atau akhir periode tertentu, misalnya akhir bab, akhir semester, atau akhir tahun ajaran. Tujuan utamanya adalah untuk mengetahui hasil akhir belajar siswa, dan biasanya hasilnya dicatat sebagai nilai resmi.

Agar lebih mudah dipahami, berikut perbedaan keduanya dalam beberapa aspek:

👉1. Waktu pelaksanaan

Formatif: Dilakukan selama proses belajar berlangsung.

Sumatif: Dilakukan di akhir pembelajaran atau akhir periode tertentu.

👉2. Tujuan utama

Formatif: Untuk memantau perkembangan siswa dan memperbaiki proses belajar.

Sumatif: Untuk menentukan hasil akhir yang biasanya dicatat sebagai nilai.

👉3. Fungsi bagi guru dan siswa

Formatif: Membantu guru mendeteksi kesulitan siswa lebih awal, lalu memberikan bimbingan tambahan. Bagi siswa, ini jadi kesempatan memperbaiki pemahaman.

Sumatif: Memberikan gambaran pencapaian akhir siswa, misalnya untuk rapor atau kelulusan.

👉4. Bentuk penilaian

Formatif: Pertanyaan lisan, kuis kecil, diskusi kelas, catatan guru, atau tugas singkat.

Sumatif: Ulangan akhir bab, ujian semester, proyek besar, atau tes resmi.

👉5. Sifat penilaian

Formatif: Bersifat diagnostik, yaitu menemukan kelemahan untuk diperbaiki.

Sumatif: Bersifat evaluatif, yaitu menilai keseluruhan hasil belajar.

---

Untuk memperjelas, mari kita lihat contoh nyata di kelas. Saat seorang guru sedang mengajar materi sistem pencernaan pada manusia, guru bertanya, “Anak-anak, organ apa yang pertama kali bekerja saat kita makan?”.

Pertanyaan sederhana ini adalah asesmen formatif, karena dilakukan di tengah pelajaran untuk mengecek pemahaman siswa. Jika ada yang masih salah, guru bisa langsung memberi penjelasan tambahan. Begitu juga dengan kuis singkat di akhir pertemuan, itu masih termasuk asesmen formatif.

Namun, setelah seluruh bab sistem pencernaan selesai, guru biasanya memberikan ulangan harian atau ujian bab. Nah, penilaian ini termasuk asesmen sumatif, karena bertujuan untuk mengetahui hasil akhir belajar siswa dan biasanya nilainya dicatat di rapor.

---

Ringkasnya:✨

✅Asesmen formatif → fokus pada proses belajar, dilakukan terus-menerus, untuk perbaikan.

✅Asesmen sumatif → fokus pada hasil akhir belajar, dilakukan di akhir pembelajaran, untuk penentuan nilai.

Jika dianalogikan, asesmen formatif ibarat “rambu-rambu di jalan” yang menuntun siswa selama perjalanan belajar, sedangkan asesmen sumatif ibarat “garis finish” yang menunjukkan sejauh mana siswa sudah berhasil mencapai tujuan.

Sumber : Keluarga Guru
#fbpro #foto #infoguru #gurusd #gurusmk #guruswasta #fyp #masukberanda #Semuaorang

Problem Based Learning (PBL) dan Project Based Learning (PjBL).

Problem Based Learning (PBL) dan Project Based Learning (PjBL). 

Sekilas keduanya tampak mirip, karena sama-sama membuat siswa aktif dan terlibat dalam proses belajar. Namun, sebenarnya keduanya memiliki perbedaan yang cukup jelas, baik dari segi tujuan, fokus, maupun hasil yang dicapai.

1. PBL (Problem Based Learning)

PBL atau pembelajaran berbasis masalah adalah model pembelajaran yang menjadikan masalah sebagai titik awal belajar. Siswa dihadapkan pada sebuah persoalan nyata yang sering terjadi di kehidupan sehari-hari. Dari masalah itu, siswa didorong untuk berpikir kritis, menganalisis, mencari informasi, dan menemukan solusi terbaik.

✅Fokus utama: pada proses berpikir dalam memecahkan masalah.
✅Tujuan: mengembangkan kemampuan berpikir kritis, logis, dan analitis.
✅Hasil akhir: berupa solusi, pemahaman, atau kesimpulan terhadap masalah yang diberikan.

📍Contoh: Guru memberikan pertanyaan, “Mengapa siswa kurang berminat aktif dalam sebuah ekstrakurikuler?” Siswa kemudian diminta menganalisis penyebab, mencari data, dan menawarkan solusi.

💢Sintaks/langkah PBL

✅1. Orientasi siswa pada masalah → guru menyajikan masalah nyata.
✅2. Mengorganisasi siswa untuk belajar → siswa berdiskusi dalam kelompok.
✅3. Membimbing penyelidikan → siswa mengumpulkan data/informasi dari berbagai sumber.
✅4. Mengembangkan dan menyajikan hasil → siswa menyampaikan solusi/ide.
✅5. Menganalisis serta mengevaluasi → siswa bersama guru menilai hasil pemecahan masalah.

---

2. PjBL (Project Based Learning)

PjBL atau pembelajaran berbasis proyek adalah model pembelajaran yang menekankan pada kegiatan membuat sebuah produk atau karya nyata. Guru memberikan sebuah tema atau pertanyaan mendasar, lalu siswa bekerja dalam kelompok untuk merencanakan, melaksanakan, dan menghasilkan proyek tertentu. Proyek ini bisa berupa laporan, maket, video, poster, atau karya lain yang sesuai dengan materi pembelajaran.

✅Fokus utama: pada pembuatan produk atau karya nyata.
✅Tujuan: mengembangkan kreativitas, keterampilan berkolaborasi, dan rasa tanggung jawab.
✅Hasil akhir: berupa produk nyata yang bisa dilihat, dipresentasikan, atau dipamerkan.

📍Contoh: Guru memberi tugas, “Buatlah Karya Tulis Ilmiah terkait dengan minat siswa terhadap ekstrakurikuler” Siswa kemudian bekerja sama membuat KTI, menyusunnya, dan mempresentasikan hasilnya.

💢Sintaks/langkah PjBL

✅1. Menentukan pertanyaan mendasar/topik proyek.
✅2. Mendesain perencanaan proyek bersama siswa.
✅3. Menyusun jadwal pelaksanaan proyek.
✅4. Melaksanakan proyek dan memonitor kegiatan siswa.
✅5. Menyusun serta menguji hasil proyek.
✅6. Mengevaluasi pengalaman belajar dan hasil karya.

---

👉Ringkasan Perbedaan Utama

📍PBL lebih menekankan pada proses berpikir untuk mencari solusi dari suatu masalah.

📍PjBL lebih menekankan pada proses berkarya yang menghasilkan produk nyata.

Dengan kata lain, PBL mengajarkan siswa untuk berpikir kritis, sedangkan PjBL mengajarkan siswa untuk berkarya nyata. Keduanya sama-sama bermanfaat, dan bisa dipilih sesuai dengan tujuan pembelajaran yang diinginkan guru.

#guru #metode #model #pembelajaran #pbl #pjbl

Sabtu, 02 Agustus 2025

Mannaki Tabbiallo Assalakki Kucinik

Punna paeng nakke tanu ngai Andi
Allema buang naung ri tamparang
Naku anjari juku
Naku nijala ri tu maraeng

Punna tea mako antu kau
Tea tongma limbang bombang
Punna tamparang passimbangenta
Kutayangi paesakna

Manna kere-kere mae 
Kuondang panngainta
Punna akjala nasarea ri tamparang
Kumappajjerakkang tongji

Tu sunggua punna ammanyuki Andi
Niak gusung natassampei
Inakkepa antu kasiasi
Ammanyuk tulusukki naung

Erok tongma anne sunggu Andi
Sunggu kamma lampangkanangku
Allo banngima akkareso
Taku parutusuk bambang allo na bosi sabbak

Bambang allo kabambangang
Bosi kabosiang
Ingka mannaki tabbiallo
Assalakki kucinik Andi

Kupatanjeng pakmaikku 
Ri pambuakkang alloa
Kupadongko panggaingku
Ri kasakrakkanna alloa

Punna paeng lamminraji pakmaiknu Andi
Anngapa naki bajik kamma ri olo
Tangku assennaji paeng
Lakboyaki ri maraeng

Nakke tena kusalimarak
Anreppesi tu maraeng
Iaji ia Andi mattantuna
Kalengtaji bawang kukacinnai

Jumat, 28 Februari 2025

Semeru dari Jauh

Apakah kau sadar
Bahwa senyummu beda 
Apakah kau tahu
Bahwa tatapanmu juga beda
Apakah kau paham
Bahwa rasamu pun beda?

Kekasihku ...
Aku melihatmu beda dari biasanya
Aku melihat cinta yang agung darimu
Adalah ketika engkau memandang
Semeru dari jauh 

Senyummu lebih tulus 
Tatapanmu lebih haru 
Rasamu lebih ikhlas
Dari biasanya

Kekasihku ...
Aku ingin kau jua
Tetap seperti itu
Ketika aku jauh darimu 

Malang, 1 Maret 2025



Senin, 03 Februari 2025

Kau Milikku

Selain dirimu
Tak ada yang lain
Namamu selalu kusebut
Dalam setiap nafasku

Letakkan aku dalam hatimu
Akupun meletakkanmu dalam hatiku
Aku akan berlari saat
Kau memanggil namaku
Lupakan seseorang yang membuatmu sakit
Aku kan menemanimu setiap saat

Aku bersumpah 
Akan mencintaimu
Dengan cara yang berbeda
Dan aku telah 
Memilihmu untukku
Kau adalah milikku

Minggu, 19 Januari 2025

Tak ada yang tahu tentangku

Tak ada yang tahu tentang kesedihanku
Mereka tak akan bisa memahami rasaku
Segala hal yang membenam pilu
Mengusap air mata sedu sedan
Terbawa arus deras ke muara
Malam gelap gulita

Tak ada yang tahu tentang kesepianku
Mereka tak akan bisa menarasikan rasaku
Segala hal yang memenjarakan duka
Pada relung jiwa meronta
Tak kunjung memungut lentera

Tak ada yang tahu tentang kerinduanku
Mereka tak akan bisa menuliskan rasaku
Segala hal yang mengukir senyum 
Nan sungkan berpaling dari ingin
Dalam ruang jarak paling sendu

Tak ada yang tahu tentang kekhawatiranku
Mereka tak akan bisa mengerti rasaku 
Segala hal yang membelenggu angan
Menunggu waktu tak bertepi
Dalam ujud doa panjang hingga senja berlabuh

||Toddo Lentu Batujala
Malang, 19 Januari 2025

Rabu, 15 Januari 2025

Pertengahan Januari

Gerimis dan embusan angin

Hinggap pada batang dan ranting pohon

Sembari mengeja dan memahami warna tahun

Mengisyaratkan sebuah harapan

Meriwayatkan sebuah doa


Di pertengahan Januari

Terbitmu bersinar terang

Menyeruak hari

Seperti kayu yang sabar pada api

Membakar lalu menjadikannya abu

Sebagai ibadah yang membara

Menyertai perjalanan hidup


Bagai awan yang sabar pada hujan

Yang menjadikannya tiada

Menangkap usapan jemari mentari

Dan langit yang penuh rimbunan restu

Lalu cakrawala dan senja

Bagian dari munajat kesetiaan


Begitu tabah melewati badai angin dan hujan

Menjelma sebagai fragmen yang panjang

Menenangkan seluruh ruang hati

Dengan larik bait dan sajak puisi rindu

Selalu hangat seperti senja di ufuk barat


Di pertengahan Januari

Angin dan hujan

Melewati perdu pekarangan

Tetap mengirim doa kebahagiaan


Malang, 15 Januari 2015






Minggu, 12 Januari 2025

Nelangsa

Hangatnya perapian dan kesejukan bulan malam ini
Mengantarkanku akan hadirnya hangatnya dirimu
Laksana menyapa, menatap paras senyummu
Tenanglah hatiku

Di mana lagi kan kutemui belas kasih itu?
Bersamamu yang semu
Mengabadikan duka
Dalam hati penuh sujud mengemis
Kembalilah kekasihku
Engkau nyatanya memilih pergi

Adakah sosokmu pada diri yang lain?
Lengkaplah sudah...
Membelenggu kesendirian dan kesepianku
Terkulai dan terkunyah penyesalanku
Lengang...
Langkahku menyusuri jalanan berapi
Bersimbah angan tak terarah

Tak kan lagi kudengar canda dan tawamu
Doa dan harapan kita 
Tak ada lagi impian itu di hatimu
Hilanglah semua
Sebab, engkau lebih memilih asing 
Daripada menyatukan hati kita 
Yang sama tak utuh 

Pada tanah yang membentang
Pada angin yang mengusik ruang hatimu
Rinduku kusam, cinta sendiri
Terbuang .... Nelangsa ....

||Toddo Lentu Batujala
Malang, 12 Januari 2025