Ini bukan tentang perihal hobi tapi ini tentang cinta dan hingga kini aku tidak mampu menjelaskan kecintaan ini sebagaimana cinta hingga kini belum mampu didefinisikan. Tapi aku ingin menyampaikan bahwa aku sedang rindu, mungkin saja rindu adalah bagian dari arti sebuah cinta.
Yaahh, aku merindukan perjalanan dan kebersamaan dalam pencapaian harapan dan tujuan. Dalam lingkup pegiat alam bebas, ekspedisi alam, dan pendakian gunung. Segala harapan itu adalah mencapai puncak gunung dan selamat sampai kembali ke rumah, kemudian tujuan adalah untuk mengukur kemampuan diri serta belajar merendahkan keangkuhan.
Kerinduan ini mengingatkan aku tentang tempat-tempat yang sering dilalui dan disinggahi untuk melepas penat dan lelah para pendaki gunung. Yaahh, PASAR ANJAYYA & LEMBAH KARISMA.
Sekitar 30 menit berjalan dari puncak gunung Lompobattang, pandangan kami arahkan ke sebelah kanan dengan radius pandang 1700 meter ke bawah, kami dapat melihat tanah lapang yang luas dan dikelilingi pepohonan yang rindang… aneh tapi nyata yahhh benar saja itulah PASAR ANJAYYA, dari bahasa setempat Anjayya artinya “orang mati” jadi Pasar Anjayya artinya pasarnya para orang-orang yang telah mati.
Wow… menurut cerita para pendaki pendahulu kami, cuman sedikit pendaki yang berani masuk ke sana, banyak hal yang di luar logika terjadi, salah satunya pernah ada pendaki yang tidak bisa keluar dari lokasi area Anjayya dua hari dua malam baru dapat keluar dari lokasi tersebut. Ada juga cerita dari senior kami pada saat dia masuk ke dalam area anjayya botol air minum seperti ada yang remuk-remukkan, bahkan katanya kalau hari kamis sore dan malam Jumat orang yang masuk ke sana akan mendengar suara-suara ramai layaknya ketika berada di pasar. itu sedikit cerita yang saya dengar.
Menurut mitos, konon kabarnya dari cerita rakyat setempat Pasar Anjayya merupakan titik pusat aktifitas jin dan mahluk gaib yang sangat kuat dan mempunyai nilai historis mistis yang menjadi cerita turun temurun oleh warga setempat wallahu A'lam!
Pasar Anjayyya dan Lembah Karisma akan kita lalui jika melakukan pendakian lintas gunung Lompobattang-Bawakaraeng, sebab keduanya berada tepat di antaranya.
Umumnya Lembah Karisma dijadikan camp para pendaki yang lintas dari Gunung Lompobattang ke Gunung Bawakaraeng. Untuk menuju Lembah Karisma dari puncak Lompobattang kita mengambil jalur kanan, dan sebelum turun ke Lembah Karisma kita terlebih dahulu melewati medan yang sangat Ekstrim dengan melalui beberapa punggungan gunung dengan berjalan miring dan pijakan yang sangat sempit, menuruni jalan yang curam (patahan) dan berbatu serta beberapa jalur yang mudah longsor. Setelah melewati turunan yang curam, kita mulai memasuki hutan yang banyak ditumbuhi pohon rotan dengan duri-durinya yang sangat tajam. Perjalanan menuju Lembah Karisma dapat ditempuh selama 6-7 jam dan mengambil jalur kanan, apabila kita terus kita akan sampai di puncak Ko’bang, menurut cerita warga sekitar di sini terdapat makam Raja Gowa dan di sini juga biasanya dijadikan tempat ritual dan juga sebagai tempat Naik Haji dan Sholat Iduladha bagi warga sekitar. Perjalanan menuju Lembah Karisma dilakukan dengan jalan yang menurun dengan sudut kemiringan ± 850. Setelah melewati penurunan yang sangat terjal kita akan mendapatkan medan yang landai hingga akhirnya tiba di post 15 atau Lembah Karisma.
Di Lembah Karisma terdapat dua sungai kecil dan terdapat pula tempat Camp yang luas. Nama karisma itu sendiri di ambil dari salah satu Perkumpulan Pecinta Alam atau biasanya di singkat dengan KPA, karena merekalah yang pertama kali menemukan lembah ini kemudian mereka memberikan nama Lembah Karisma, di lembah ini terdapat dua aliran sungai kecil. Lembah Karisma berada pada ketinggian 2236 mdpl.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar