Yth. Khalifah di Bumi
Kumulai dengan sebuah tanya
Coba tanya nalurimu yang paling dalam
Sebelum engkau benar-benar
Menjadi sesuatu yang dikhawatirkan para Malaikat
Masihkah engkau menikmati rindangnya hutan
Bila aku selalu menjadi sasaran eksploitasi
Dari para kaum serakah yang hatinya penuh amarah?
Masihkah engkau merasakan sejuknya pemandangan gunung dengan pohon menjulang tinggi
Bila aku digunduli dengan mesin-mesin kapitalis yang tahu hanya untung?
Tanahku dahulu
Tanah yang subur, kaya sumber mata air
Hutannya adalah rumah bagi satwa endemik
Kini...
Tanah itu subur akan air mata
Akar pohon yang memeluk tanah
Lengannya dipotong lalu jadi arang
Musim hujan, banjir dan tanah longsor bertamu
Musim panas, kekeringan melanda menyengat
Bagaimana bisa engkau tidak kusalahkan?
Heiii...tangan-tangan keserakahan
Engkau telah merebut segalanya dari anak cucumu
Mata air suci itu
Pagi nan indah itu
Udara segar itu
Kau juga merebut kesejukan itu
Bagaimana bisa engkau tidak kusalahkan?
Kini tubuhku semakin rentah
Dengan penderitaan membelenggu
Nadiku semakin melemah
Beberapa detak jantung lagi aku mati
Kukatakan pada kalian
Aku mencintaimu
Sebab, aku tercipta untukmu
Yang telah dititipkan sayap Tuhan
Untuk terbang mengepak di atas tubuhku
Aku memohon kepada kalian
Yang telah direstui langit
Menjadi sebagai Khalifah
Hentikan bergerak membulalak
Hiduplah tumbuh bahagia
Bersama Flora dan Fauna
Abd. Rahman ||Malang, 17 Januari 2024||
Tidak ada komentar:
Posting Komentar