Aku masih mempertaruhkan hidup demi lambung kian perih
Pada rembulan menyapa gelap malam
Pada dekapan asap karbon monoksida
Aku melangkah berselimut kabut malam
Dengan siulan terdengar tak nyaring
Gemetar tubuhku dan bertanya dalam hati
Sungguh, inikah kemerdekaan di negeri ini?
Nampak jelas grafiti pada tembok lorong-lorong sempit nan kumuh
"kemerdakaan hanya gincu"
Terbayang seorang pemuda kehilangan figur, terduduk sungkur
Wajah petani kusam, lesuh penuh harap panen besar
Para pedagang di teras toko terbujur tubuh kurus dengan mimik mengharap iba
Sementara itu ...
Pada gedung instansi disibukkan dengan data dan bukti
Pada media massa tersebar proses penangakapan binatang berjalan tegak
Manusia tanpa akal, tanpa hati
Heiii ...
Engkau dipilih bukan dilotre
Enkau janji membela pertiwi
Engkau janji wujudkan kemerdekaan hakiki
Inikah kemerdekaan yang engkau maksud? Haaahhhh...!!!
Merdeka dari tikaman kerakusan dan keserakahan bertebaran
Merdeka dari kesuburan gratifikasi, korupsi, dan kolusi
Ataukah semua telah mati
Mati dari kepekaan dan kepedulian
Mati dari kemurnian nurani dan ketulusan hati
||Toddo Lentu Batujala||
Bantaeng, 31 Maret 2024
Tidak ada komentar:
Posting Komentar